Pernyataan Sikap Sastrawan
Ode Kampung
Serang, Banten, 20-22 Juli 2007:
Kondisi Sastra Indonesia saat ini memperlihatkan gejala berlangsungnya dominasi sebuah komunitas dan azas yang dianutnya terhadap komunitas-komunitas sastra lainnya. Dominasi itu bahkan tampil dalam bentuknya yang paling arogan, yaitu merasa berhak merumuskan dan memetakan perkembangan sastra menurut standar estetika dan ideologi yang dianutnya. Kondisi ini jelas meresahkan komunitas-komunitas sastra yang ada di Indonesia karena kontraproduktif dan destruktif bagi perkembangan sastra Indonesia yang sehat, setara, dan bermartabat.
Dalam menyikapi kondisi ini, kami sastrawan dan penggiat komunitas-komunitas sastra memaklumatkan Pernyataan Sikap sebagai berikut:
1. Menolak arogansi dan dominasi sebuah komunitas atas komunitas lainnya.
2. Menolak eksploitasi seksual sebagai standar estetika.
3. Menolak bantuan asing yang memperalat keindonesiaan kebudayaan kita.
Bagi kami sastra adalah ekspresi seni yang merefleksikan keindonesiaan kebudayaan kita di mana moralitas merupakan salah satu pilar utamanya. Terkait dengan itu sudah tentu sastrawan memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat (pembaca). Oleh karena itu kami menentang sikap ketidakpedulian pemerintah terhadap musibah-musibah yang disebabkan baik oleh perusahaan, individu, maupun kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat, misalnya tragedi lumpur gas Lapindo di Sidoarjo. Kami juga mengecam keras sastrawan yang nyata-nyata tidak mempedulikan musibah-musibah tersebut, bahkan berafiliasi dengan pengusaha yang mengakibatkan musibah tersebut.
Demikianlah Pernyataan Sikap ini kami buat sebagai pendirian kami terhadap kondisi sastra Indonesia saat ini, sekaligus solidaritas terhadap korban-korban musibah kejahatan kapitalisme di seluruh Indonesia.
Kami yang menyuarakan dan mendukung pernyataan ini:
01. Wowok Hesti Prabowo (Tangerang)
02. Saut Situmorang (Yogyakarta)
03. Kusprihyanto Namma (Ngawi)
04. Wan Anwar (Serang)
05. Hasan Bisri BFC (Bekasi)
06. Ahmadun Y. Herfanda (Jakarta)
07. Helvy Tiana Rosa (Jakarta)
08. Viddy AD Daeri (Lamongan)
09. Yanusa Nugroho (Ciputat)
10. Raudal Tanjung Banua (Yogya)
11. Gola Gong (Serang)
12. Maman S. Mahayana (Jakarta)
13. Diah Hadaning (Bogor)
14. Jumari Hs (Kudus)
15. Chavcay Saefullah (Lebak)
16. Toto St. Radik (Serang)
17. Ruby Ach. Baedhawy (Serang)
18. Firman Venayaksa (Serang)
19. Slamet Raharjo Rais (Jakarta)
20. Arie MP.Tamba (Jakarta)
21. Ahmad Nurullah (Jakarta)
22. Bonnie Triyana (Jakarta)
23. Dwi Fitria (Jakarta)
24. Doddi Ahmad Fauzi (Jakarta)
25. Mat Don (Bandung)
26. Ahmad Supena (Pandeglang)
27. Mahdi Duri (Tangerang)
28. Bonari Nabonenar (Malang)
29. Asma Nadia (Depok)
30. Nur Wahida Idris (Yogyakarta)
31. Y. Thendra BP (Yogyakarta)
32. Damhuri Muhammad (Depok) 33. Katrin Bandell (Yogya)
34. Din Sadja (Banda Aceh)
35. Fahmi Faqih (Surabaya)
36. Idris Pasaribu (Medan)
37. Indriyan Koto (Medan)
38. Muda Wijaya (Bali)
39. Pranita Dewi (Bali)
40. Sindu Putra (Lombok)
41. Suharyoto Sastrosuwignyo (Riau)
42. Asep Semboja (Depok)
43. M. Arman AZ (Lampung)
44. Bilven Ultimus (Bandung)
45. Pramita Gayatri (Serang)
46. Ayuni Hasna (Bandung)
47. Sri Alhidayati (Bandung)
48. Suci Zwastydikaningtyas (Bandung)
49. Riksariote M. Padl (bandung)
50. Solmah (Bekasi)
51. Herti (Bekasi)
52. Hayyu (Bekasi)
53. Endah Hamasah (Thullabi)
54. Nabila (DKI)
55. Manik Susanti
56. Nurfahmi Taufik el-Sha’b
57. Benny Rhamdani (Bandung)
58. Selvy (Bandung)
59. Azura Dayana (Palembang)
60. Dani Ardiansyah (Bogor)
61. Uryati zulkifli (DKI)
62. Ervan ( DKI)
63. Andi Tenri Dala (DKI)
64. Azimah Rahayu (DKI)
65. Habiburrahman el-Shirazy
66. Elili al-Maliky
67. Wahyu Heriyadi
68. Lusiana Monohevita
69. Asma Sembiring (Bogor)
70. Yeli Sarvina (Bogor)
71. Dwi Ferriyati (Bekasi)
72. Hayyu Alynda (Bekasi)
73. herti Windya (Bekasi)
74. Nadiah Abidin (Bekasi)
75. Ima Akip (Bekasi)
76. Lina M (Ciputat)
77. Murni (Ciputat)
78. Giyanto Subagio (Jakarta)
79. Santo (Cilegon)
80. Meiliana (DKI)
81. Ambhita Dhyaningrum (Solo)
82. Lia Oktavia (DKI)
83. Endah (Bandung)
84. Ahmad Lamuna (DKI)
85. Billy Antoro (DKI)
86. Wildan Nugraha (DKI)
87. M. Rhadyal Wilson (Bukitingi)
88. Asril Novian Alifi (Surabaya)
89. Jairi Irawan ( Surabaya)
90. Langlang Randhawa (Serang)
91. Muhzen Den (Serang)
92. Renhard Renn (Serang)
93. Fikar W. Eda (Aceh)
94. Acep Iwan Saidi (Bandung)
95. Usman Didi Hamdani (Brebes)
96. Diah S. (Tegal)
97. Cunong Suraja (Bogor)
98. Muhamad Husen (Jambi)
99. Leonowen (Jakarta)
100. Rahmat Ali (Jakarta)
101. Makanudin RS (Bekasi)
102. Ali Ibnu Anwar ( Jawa Timur)
103. Syarif Hidayatullah (Depok)
104. Moh Hamzah Arsa (Madura)
105. Mita Indrawati (Padang)
106. Suci Zwastydikaningtyas (Bandung)
107. Sri al-Hidayati (Bandung)
108. Nabilah (DKI)
109. Siti Sarah (DKI)
110. Rina Yulian (DKI)
111. Lilyani Taurisia WM (DKI)
112. Rina Prihatin (DKI)
113. Dwi Hariyanto (Serang)
114. Rachmat Nugraha (Jakarta)
115. Ressa Novita (Jakarta)
116. Sokat (DKI)
117. Koko Nata Kusuma (DKI)
118. Ali Muakhir (Bandung)
119. M. Ifan Hidayatullah (Bandung)
120. Denny Prabowo (Depok)
121. Ratono Fadillah (Depok)
122. Sulistami Prihandini (Depok)
123. Nurhadiansyah (Depok)
124. Trimanto (Depok)
125. Birulaut (Pusat)
126. Rahmadiyanti (Pusat)
127. Riki Cahya (Jabar)
128. Aswi (Bandung)
129. Lian Kagura (Bandung)
130. Duddy Fachruddin (Bandung)
131. Alang Nemo (Bandung)
132. Epri Tsaqib Adew Habtsa (Bandung)
133. Tena Avragnai (Bandung)
134. Gatot Aryo (Bogor)
135. Andika (Jambi)
136. Widzar al-Ghiffary (Bandung)
137. Azizi Irawan Dwi Poetra (Serang)
Senin, 23 Juli 2007
Jumat, 13 Juli 2007
Buletin Jendela, sebuah kreatifitas anak muda dari Komunitas Penulis Jakarta
“JENDELA” memang beda . Kupasan atau isi buletin “JENDELA” selalu dalam lingkup sastra dan lebih banyak merupakan sarana untuk menampilkan karya-karya sastra berupa cerpen dan puisi.
Tujuh Edisi buletin “JENDELA” sejak berdirinya pada tanggal 6 April 2007 lalu secara jelas menunjukkan hal itu. Kehadiran rubrik-rubrik seperti Focus-Line, Tips, Legenda, dan Lentera, memang pelengkap. Lihatlah karya-karya sastra yang mendominasi setiap halaman dari buletin “JENDELA”.
Selain itu, buletin “JENDELA” yang dirintis oleh Rachmat Nugraha dan Ressa Novita semakin hari semakin tampil sempurna dari segi fisik (layout). Hal ini terbukti dengan meningkatnya oplah buletin “JENDELA” dan tak heran jika kemudian buletin “JENDELA” lambat laun menjadi buletin yang paling diminati dan ditunggu-tunggu kehadiran oleh anggota dan simpatisan Komunitas Penulis Jakarta sejak terbitannya pertama kali. Terbukti dengan adanya perubahan waktu penerbitan dari semula rencananya satu bulan sekali menjadi dua minggu sekali.
Tujuh Edisi buletin “JENDELA” sejak berdirinya pada tanggal 6 April 2007 lalu secara jelas menunjukkan hal itu. Kehadiran rubrik-rubrik seperti Focus-Line, Tips, Legenda, dan Lentera, memang pelengkap. Lihatlah karya-karya sastra yang mendominasi setiap halaman dari buletin “JENDELA”.
Selain itu, buletin “JENDELA” yang dirintis oleh Rachmat Nugraha dan Ressa Novita semakin hari semakin tampil sempurna dari segi fisik (layout). Hal ini terbukti dengan meningkatnya oplah buletin “JENDELA” dan tak heran jika kemudian buletin “JENDELA” lambat laun menjadi buletin yang paling diminati dan ditunggu-tunggu kehadiran oleh anggota dan simpatisan Komunitas Penulis Jakarta sejak terbitannya pertama kali. Terbukti dengan adanya perubahan waktu penerbitan dari semula rencananya satu bulan sekali menjadi dua minggu sekali.
Tips menulis novel
Novel tak lain merupakan pengembangan dan pelengkapan dari sebuah cerpen. Unsur-unsur yang terdapat dalam cerpen seperti tema, tokoh, beserta karakternya, dialog, seting, dan alur atau plot cerita merupakan elemen penting yang tak mungkin ditinggalkan dalam sebuah novel.
Seperti halnya cerpen, tema novel pun bisa diambil dari mana saja. Bisa dari kejadian nyata, pengalaman sehari-hari, atau rekaan (fiktif).
Dan tahu tidak? Semua orang boleh menulis novel, karena novel bukan hanya dominasi para penulis senior. Untuk itu, jika anda ingin menulis novel? Sebaiknya ikutilah tips-tips berikut ini.
Cobalah memutar otak anda untuk mencari sebuah ide atau gagasan cerita yang akan anda tulis.
Lalu, buatlah sinopsis dan penokohan dari cerita yang ingin anda tulis
Mulailah menulis dengan perasaan.
Cobalah untuk menulis di tengah malam, karena biasanya pada malam hari ide lebih mengalir dengan lancar.
Untuk lebih lengkapnya, bacalah novel karya penulis-penulis terkenal agar anda mengetahui teori-teori yang diterapkan dalam novel yang sudah jadi.
Terakhir, publikasikan karya anda melalui penerbit.
Ok! Selamat mencoba. Jadilah penulis yang handal dan ingat, musuh terbesar bagi penulis adalah mood. Jadi, lawanlah bad mood anda! (RN)
Seperti halnya cerpen, tema novel pun bisa diambil dari mana saja. Bisa dari kejadian nyata, pengalaman sehari-hari, atau rekaan (fiktif).
Dan tahu tidak? Semua orang boleh menulis novel, karena novel bukan hanya dominasi para penulis senior. Untuk itu, jika anda ingin menulis novel? Sebaiknya ikutilah tips-tips berikut ini.
Cobalah memutar otak anda untuk mencari sebuah ide atau gagasan cerita yang akan anda tulis.
Lalu, buatlah sinopsis dan penokohan dari cerita yang ingin anda tulis
Mulailah menulis dengan perasaan.
Cobalah untuk menulis di tengah malam, karena biasanya pada malam hari ide lebih mengalir dengan lancar.
Untuk lebih lengkapnya, bacalah novel karya penulis-penulis terkenal agar anda mengetahui teori-teori yang diterapkan dalam novel yang sudah jadi.
Terakhir, publikasikan karya anda melalui penerbit.
Ok! Selamat mencoba. Jadilah penulis yang handal dan ingat, musuh terbesar bagi penulis adalah mood. Jadi, lawanlah bad mood anda! (RN)
HIV/AIDS, I HATE YOU! (Cerpen)
Oleh:Rachmat Nugraha
Yudhis Nataadmaja. Aku biasa memanggilnya Adis. Dia sahabatku. Anaknya tinggi, putih, dan memiliki potongan rambut ala To Ming Se, tokoh utama dalam film seri Meteor Garden. Diantara kami berdua, dialah yang selalu paling modis penampilannya. Maklum, dia selalu mengikuti trend dibanding aku. Segala model terbaru, pasti diikutinya. Dari model rambut, baju, sampai gaya omongan terbaru. Sedang aku, tak begitu berminat dengan yang namanya trend. Bahkan, dalam penampilan pun aku selalu seenaknya. Yang menurutku itu bagus, itulah yang kupakai. Sedang aku, adalah wanita yang tidak pernah sedikitpun menampakan sisi kewanitaanku. Itulah sebabnya, banyak teman-teman kuliahku sesama wanita yang agak enggan berteman baik denganku. Padahal, aku sudah memproklamirkan diriku sebagai wanita yang tidak menyukai sesama jenis. Tapi, rupanya mereka kadung (terlanjur) tidak percaya.
Ohya, namaku sendiri Citra. Lengkapnya Lia Triani Citrasari. Aku kuliah di jurusan vokal Sekolah Tinggi Musik Tatar Sunda, di Bandung. Sedang Yudhis, begitu lulus SMU dia lebih memilih kuliah di jurusan teknik sipil Universitas Mangkunegara yang letaknya sekitar 10 kilometer dari kampus tempatku menuntut ilmu.
Aku dan Yudhis sudah bersahabat sejak kami sama-sama masih duduk di kelas 1 (berdasarkan pembagian tingkatan kelas sebelum berlakunya KBK) di SMU Harapan Bangsa, di daerah Ledeng, Bandung. Dan kami tak pernah sedikitpun ada niat untuk mengakhiri persahabatan kami. Cause friendship is never die, Right!. Setidaknya itulah yang selalu kami kumandangkan, sebelum Tuhan mengambil Yudhis dari sisiku.
Ya, Yudhis sudah tiada. Dia meninggal seminggu yang lalu di rumah sakit Kurnia karena penyakit HIV/AIDS yang dideritanya sejak kuliahnya baru menginjak semester pertama. tepatnya empat tahun silam. Semua itu gara-gara pergaulannya yang salah. dan itu bermula dari perceraian kedua orang tuanya. Sering aku mencoba menasihatinya. Tapi, pergaulannya sepertinya telah menutupi akal sehatnya sehingga sulit untuk mendengar nasihaku. Ohhh… I hate AIDS!. mengingat itu aku kembali larut dalam kesedihan. Tanpa terasa aku terhanyut dalam kenangan masa lalu…
****
Waktu itu, sabtu sore. lima tahun lalu.
Aku asyik membaca majalah remaja sambil menikmati jus alpukat yang kubuat sendiri di teras rumah. Yudhis datang dan langsung menjatuhkan pantatnya disampingku.
“Aduh, kamu Dis! Ngagetin aja” Aku memasang muka masam.
Tapi, Yudhis diam saja. Wajahnya memancarkan kesedihan.
“Kamu kenapa, Dis?”
Yudhis tidak menjawab. Ia menyulut sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Baru kali itu aku melihatnya merokok. Biasanya dia tidak pernah sedikitpun menyentuh racun itu.
“Ada masalah?”
Yudhis menghela napas panjang. “He-em”
“Orang tua kamu?”
Yudhis mengangguk. “Mereka mau cerai, Cit”
“Apa?” Mataku langsung terbelalak. “Kenapa?”
“My father! He had a another woman!”
“Your kidding, right?”
“No! I’m seriously”
Kepadaku, Yudhis lalu menceritakan semuanya. Sesekali, dia berhenti sejenak. Menghisap rokok yang terselip di jarinya. Guratan wajahnya menunjukkan kesedihan. Kurasakan ada luka yang mendalam di hatinya.
“Yang tabah ya, Dis” Hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.
Aku sendiri tidak tahu harus berkomentar apa. Aku telah ikut terhanyut dalam kesedihannya.
“Cit… rasanya aku udah enggak tahan dengan semua ini….. celana dalamku mana?”
“Lho?” Aku kembali ke alam sadar dan mendapatkan Rani, adikku semata wayang yang baru saja beranjak remaja sudah menampakkan raut wajah manja.
“Mana?”
“Apaan?”
“Celana dalamku yang ada gambar Winnie The Pooh-nya”
“Mana kaka tau, cari aja di tempat gosokan sana! ganggu aja”
“Huuuhhh….” Rani pergi dengan mulut manyun.
Kulihat jam dinding sudah menunjukkan angka 11 malam. Karena takut kesiangan, akhirnya kuputuskan untuk beranjak tidur.
****
“CIT, AWAS!”
“BRUKK! ADUH!”
Aku jatuh tertelungkup diatas tubuh gempalnya Sifa. Dan Sifa tergencet antara aku dan sepedanya. Aku meringis menahan sakit. Dengkulku yang belum sembuh dari memar akibat main bola bersama anak-anak SD di lapangan seberang rumahku beradu dengan batang sepeda milik Sifa.
“Citra, kamu enggak apa-apa?” Rendy, teman kampusku datang menolong.
“Enggak… enggak apa-apa”
“Aku yang kenapa-napa!”
“Ya, ampun!” Aku langsung bangkit berdiri. Aku dan Rendy lalu membantu membangunkan sepeda. Upss, maksudku Sifa.
“Tega!”
“Sori Fa, keenakan”
Setelah memastikan bahwa tidak ada apa-apa dengan Sifa, terutama sepedanya, aku dan Rendy kemudian beranjak menuju kelas yang berada di pojok belakang gedung untuk mengikuti praktek olah vokal. Sebuah ruangan yang sebenarnya tak pernah sedikitpun aku berminat memasukinya. Aku pernah mengajukan usulan perpindahan kelas pada Bu Necy Astrea, dosen olah vokalku. Tapi, beberapa kali ditolaknya dengan alasan diruangan kelas yang lain dia tidak dapat menyalurkan hasrat pipisnya yang menyerangnya setiap sepuluh menit sekali dengan cepat (seriously?). Karena hanya kelas itu yang memiliki jarak terdekat dengan WC. Dan bagiku, aroma WC itulah yang membuatku kehilangan selera untuk mengikuti kuliah.
Hari sudah semakin siang. Dosen belum juga datang. Sambil menunggu, kugunakan waktuku dengan mendengarkan musik dari MP3-ku. Aku terdiam. Lagu “Kisah Klasik”nya Sheila On 7 membuatku kembali teringat Yudhis. Lagu ini kesukaannya. Aku ingat benar, Yudhis sering menyanyikannya didepanku. Tak terasa aku larut dalam kenanganku bersama Yudhis….
****
Waktu itu, malam-malam. Yudhis datang ke rumahku dengan penampilan yang lebih rapih dari biasanya. Aku agak heran melihatnya. Karena malam itu, seharusnya dia berada di aula, sekolah kami. Ya, malam itu ada acara pesta sekolah. Aku sendiri tidak datang , karena acara tersebut mewajibkan seluruh siswa berpasangan. Jelas saja aku tidak bisa. Pacar saja aku tidak punya.
“Kamu enggak datang ke pesta sekolah?”
“Mau…. Aku mau datang kesana”
“Lho, terus kenapa kesini? Si Widi, mana?”
“Widi enggak bisa datang, nganter Ibunya ke Bogor” Yudhis lalu duduk dikursi. “Kamu ganti baju sana! kita pergi”
“Kemana?” Aku bingung.
“Ya, ke pesta sekolah dong, Non! Emangnya kemana lagi, udah sana cepetan”
Buru-buru aku berlari ke kamar dan mengganti pakaianku. Gaun hadiah dari Ayahku setahun yang lalu menjadi pilihanku malam itu. Dan ketika aku menemui Yudhis kembali, dia memandangku dengan terkesima.
“Kenapa?”
“Aku enggak nyangka, ternyata kamu cantik banget kalau dandan”
Itu adalah pujian pertama yang kudengar dari mulut Yudhis. Maklum, biasanya dia selalu mengejekku karena selalu berpakaian seenaknya dan tidak pernah dandan layaknya seorang wanita.
“Ya udah, ah! jalan yuk, ntar terlambat lagi” Ajakku.
Dengan mobil CR-V milik Yudhis, kami pun beranjak menuju sekolah. Malam itu, jalanan begitu sepi. Hujan yang mengguyur kota Bandung tadi sore membuat udara menjadi dingin, hingga orang-orang segan untuk keluar rumah. Yang ada hanyalah segelintir binatang malam yang dengan penuh semangat hidup mencari makan di keremangan malam. Sambil terus menyetir, kulirik Yudhis sesekali menggerakkan bibirnya mengikuti alunan lagu “Kisah Klasik” milik Sheila On 7. Agak tersenyum geli aku memperhatikannya. Aku yakin, jika saja banyak orang yang mendengarkannya, maka setelah malam itu omset penjualan kaset Sheila On 7 akan mengalami penurunan yang drastis.
“Kenapa senyum-senyum?” Yudhis melirikku ketika mobil kami terhenti oleh lampu merah. “Kamu pasti mau ngeledek suaraku, ya?”
Aku menggeleng. Bohong. “Enggak… suara kamu bagus kok!”
“Makasih! Baru tau, ya?”
“Lebih bagus lagi kalau diam”
Sejam kemudian akhirnya kami tiba. Malam itu sekolah benar-benar ramai tak seperti biasanya. Suara alunan musik berdentum keras dari aula yang dirubah menjadi tempat pesta. Aku dan Yudhis bergegas turun dari mobil dan menuju aula sekolah.
Malam itu, kami benar-benar larut dalam meriahnya pesta. Kami seperti terbebas dari segala beban yang selalu menguntit kami selama 3 tahun kami belajar di sekolah. Maklum aja, malam itu adalah malam perpisahan kami dengan sekolah.
Lamunanku langsung buyar ketika Rendy menepuk pundakku memberitahukan kalau Bu Necy Astrea sudah datang.
****
Jam 5 sore, aku tiba di rumah. Sepi. Tidak ada satupun orang di rumah. Di meja tamu kudapati secarik kertas berisikan pesan dari Ibu. Rupanya Ibu dan Rani pergi ke rumah Tante Yanti, teman Ibu semasa sekolah.
Dengan langkah agak gontai, kumasuki kamarku. Kurasakan, letih dan penat setelah seharian bergelut dengan tiga mata kuliah terus menggelayuti tubuhku. Kurebahkan tubuhku diatas kasur. Fiiuuuhh…..I’m very tired this day. Mataku begitu perih.
Setelah istirahat sebentar, aku kemudian mandi dan ganti baju. Kemudian aku berjalan keluar kamar menuju teras rumah. Dan lagi-lagi aku teringat pada Yudhis. Entah kenapa sosoknya masih terus menggerayangi pikiranku. Sepertinya aku masih tidak dapat mempercayai kematiannya. Ingatanku pun kembali hari dimana Yudhis menghembuskan nafas terakhirnya dihadapanku.
Waktu itu, mega terlihat mulai memerah menyambut datangnya malam ketika aku sampai di rumah sakit Kurnia. Dengan hati yang terus gelisah, aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang cukup panjang. Kabar yang kudengar dari orang tua Yudhis telah membuatku resah sejak perjalanan tadi.
Setibanya di ruang ICU, aku menghentikan langkahku. Kulihat kedua orang tua Yudhis sedang berdiri dengan raut wajah yang sangat sedih di depan kaca yang memisahkan mereka dengan Yudhis yang tengah terbaring tak berdaya di dalam ruangan berukuran cukup besar, berdampingan pada sebuah kursi panjang di luar kamar rawat.
“Citra, kok malah bengong? Kesini!” Rupanya Orang tua Yudhis menyadari kedatanganku.
Aku menurutinya. Dengan berat, kulangkahkan kakiku menghampiri kedua orang tua Yudhis. Setelah ngobrol sejenak, kami lantas masuk dalam ruangan dengan mengenakan masker dan jas demi menjaga ruangan tetap steril. Dengan perlahan, kami menghampiri Yudhis yang masih terbaring tak berdaya. Sungguh memilukan. Tubuhnya yang dulu gemuk dan sehat kini berubah tinggal tulang berbalut kulit.
“Yudhis, ini Citra datang!”
Tapi Yudhis tidak menyahut. Jangankan menengok, membuka mata saja tidak. Menyaksikan kondisi Yudhis yang memprihatinkan, aku tak mampu membendung air matanya. Aku pun menangis terisak. Tak kuasa diriku menahan pilu.
Suasana malam itu berubah sunyi. Yang terdengar hanyalah isak tangisku dan orang tua Yudhis. Kami seperti tak percaya jika Yudhis menderita HIV/AIDS. Selama ini Yudhis terlihat sehat-sehat saja di depan kami. Tidak ada hal yang ganjil pada diri Yudhis.
Disaat aku terus menangis, tiba-tiba saja jemari Yudhis bergerak. Matanya perlahan membuka. Lalu melirik ke arahku.
“Cit…Cit…Citra,” Suara Yudhis terbata-bata.
“Iya… iya, ini aku, Citra!”
“Ma… Ma…. Maafin aku ka… ka….karena enggak dengar nasihat kamu”
Aku mengangguk sambil terus terisak.
Setelah itu Yudhis kembali memejamkan matanya. Tapi, bukan tidur. Yudhis memejamkan mata untuk selamanya. Menyaksikan hal itu, aku semakin tidak mampu membendung air mataku. Begitu juga dengan kedua orang tua Yudhis. Mereka menangis begitu histeris. Sekejap ruangan itu berubah menjadi lautan air mata.
Aku benar-benar terpukul dengan kepergian Yudhis. Sejak itu, entah kenapa aku jadi begitu benci dengan yang namanya HIV/AIDS. Sejak itu pula aku jadi aktif di Stigma, sebuah lembaga yang sangat giat dalam memerangi HIV/AIDS.
****
Yudhis Nataadmaja. Aku biasa memanggilnya Adis. Dia sahabatku. Anaknya tinggi, putih, dan memiliki potongan rambut ala To Ming Se, tokoh utama dalam film seri Meteor Garden. Diantara kami berdua, dialah yang selalu paling modis penampilannya. Maklum, dia selalu mengikuti trend dibanding aku. Segala model terbaru, pasti diikutinya. Dari model rambut, baju, sampai gaya omongan terbaru. Sedang aku, tak begitu berminat dengan yang namanya trend. Bahkan, dalam penampilan pun aku selalu seenaknya. Yang menurutku itu bagus, itulah yang kupakai. Sedang aku, adalah wanita yang tidak pernah sedikitpun menampakan sisi kewanitaanku. Itulah sebabnya, banyak teman-teman kuliahku sesama wanita yang agak enggan berteman baik denganku. Padahal, aku sudah memproklamirkan diriku sebagai wanita yang tidak menyukai sesama jenis. Tapi, rupanya mereka kadung (terlanjur) tidak percaya.
Ohya, namaku sendiri Citra. Lengkapnya Lia Triani Citrasari. Aku kuliah di jurusan vokal Sekolah Tinggi Musik Tatar Sunda, di Bandung. Sedang Yudhis, begitu lulus SMU dia lebih memilih kuliah di jurusan teknik sipil Universitas Mangkunegara yang letaknya sekitar 10 kilometer dari kampus tempatku menuntut ilmu.
Aku dan Yudhis sudah bersahabat sejak kami sama-sama masih duduk di kelas 1 (berdasarkan pembagian tingkatan kelas sebelum berlakunya KBK) di SMU Harapan Bangsa, di daerah Ledeng, Bandung. Dan kami tak pernah sedikitpun ada niat untuk mengakhiri persahabatan kami. Cause friendship is never die, Right!. Setidaknya itulah yang selalu kami kumandangkan, sebelum Tuhan mengambil Yudhis dari sisiku.
Ya, Yudhis sudah tiada. Dia meninggal seminggu yang lalu di rumah sakit Kurnia karena penyakit HIV/AIDS yang dideritanya sejak kuliahnya baru menginjak semester pertama. tepatnya empat tahun silam. Semua itu gara-gara pergaulannya yang salah. dan itu bermula dari perceraian kedua orang tuanya. Sering aku mencoba menasihatinya. Tapi, pergaulannya sepertinya telah menutupi akal sehatnya sehingga sulit untuk mendengar nasihaku. Ohhh… I hate AIDS!. mengingat itu aku kembali larut dalam kesedihan. Tanpa terasa aku terhanyut dalam kenangan masa lalu…
****
Waktu itu, sabtu sore. lima tahun lalu.
Aku asyik membaca majalah remaja sambil menikmati jus alpukat yang kubuat sendiri di teras rumah. Yudhis datang dan langsung menjatuhkan pantatnya disampingku.
“Aduh, kamu Dis! Ngagetin aja” Aku memasang muka masam.
Tapi, Yudhis diam saja. Wajahnya memancarkan kesedihan.
“Kamu kenapa, Dis?”
Yudhis tidak menjawab. Ia menyulut sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Baru kali itu aku melihatnya merokok. Biasanya dia tidak pernah sedikitpun menyentuh racun itu.
“Ada masalah?”
Yudhis menghela napas panjang. “He-em”
“Orang tua kamu?”
Yudhis mengangguk. “Mereka mau cerai, Cit”
“Apa?” Mataku langsung terbelalak. “Kenapa?”
“My father! He had a another woman!”
“Your kidding, right?”
“No! I’m seriously”
Kepadaku, Yudhis lalu menceritakan semuanya. Sesekali, dia berhenti sejenak. Menghisap rokok yang terselip di jarinya. Guratan wajahnya menunjukkan kesedihan. Kurasakan ada luka yang mendalam di hatinya.
“Yang tabah ya, Dis” Hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.
Aku sendiri tidak tahu harus berkomentar apa. Aku telah ikut terhanyut dalam kesedihannya.
“Cit… rasanya aku udah enggak tahan dengan semua ini….. celana dalamku mana?”
“Lho?” Aku kembali ke alam sadar dan mendapatkan Rani, adikku semata wayang yang baru saja beranjak remaja sudah menampakkan raut wajah manja.
“Mana?”
“Apaan?”
“Celana dalamku yang ada gambar Winnie The Pooh-nya”
“Mana kaka tau, cari aja di tempat gosokan sana! ganggu aja”
“Huuuhhh….” Rani pergi dengan mulut manyun.
Kulihat jam dinding sudah menunjukkan angka 11 malam. Karena takut kesiangan, akhirnya kuputuskan untuk beranjak tidur.
****
“CIT, AWAS!”
“BRUKK! ADUH!”
Aku jatuh tertelungkup diatas tubuh gempalnya Sifa. Dan Sifa tergencet antara aku dan sepedanya. Aku meringis menahan sakit. Dengkulku yang belum sembuh dari memar akibat main bola bersama anak-anak SD di lapangan seberang rumahku beradu dengan batang sepeda milik Sifa.
“Citra, kamu enggak apa-apa?” Rendy, teman kampusku datang menolong.
“Enggak… enggak apa-apa”
“Aku yang kenapa-napa!”
“Ya, ampun!” Aku langsung bangkit berdiri. Aku dan Rendy lalu membantu membangunkan sepeda. Upss, maksudku Sifa.
“Tega!”
“Sori Fa, keenakan”
Setelah memastikan bahwa tidak ada apa-apa dengan Sifa, terutama sepedanya, aku dan Rendy kemudian beranjak menuju kelas yang berada di pojok belakang gedung untuk mengikuti praktek olah vokal. Sebuah ruangan yang sebenarnya tak pernah sedikitpun aku berminat memasukinya. Aku pernah mengajukan usulan perpindahan kelas pada Bu Necy Astrea, dosen olah vokalku. Tapi, beberapa kali ditolaknya dengan alasan diruangan kelas yang lain dia tidak dapat menyalurkan hasrat pipisnya yang menyerangnya setiap sepuluh menit sekali dengan cepat (seriously?). Karena hanya kelas itu yang memiliki jarak terdekat dengan WC. Dan bagiku, aroma WC itulah yang membuatku kehilangan selera untuk mengikuti kuliah.
Hari sudah semakin siang. Dosen belum juga datang. Sambil menunggu, kugunakan waktuku dengan mendengarkan musik dari MP3-ku. Aku terdiam. Lagu “Kisah Klasik”nya Sheila On 7 membuatku kembali teringat Yudhis. Lagu ini kesukaannya. Aku ingat benar, Yudhis sering menyanyikannya didepanku. Tak terasa aku larut dalam kenanganku bersama Yudhis….
****
Waktu itu, malam-malam. Yudhis datang ke rumahku dengan penampilan yang lebih rapih dari biasanya. Aku agak heran melihatnya. Karena malam itu, seharusnya dia berada di aula, sekolah kami. Ya, malam itu ada acara pesta sekolah. Aku sendiri tidak datang , karena acara tersebut mewajibkan seluruh siswa berpasangan. Jelas saja aku tidak bisa. Pacar saja aku tidak punya.
“Kamu enggak datang ke pesta sekolah?”
“Mau…. Aku mau datang kesana”
“Lho, terus kenapa kesini? Si Widi, mana?”
“Widi enggak bisa datang, nganter Ibunya ke Bogor” Yudhis lalu duduk dikursi. “Kamu ganti baju sana! kita pergi”
“Kemana?” Aku bingung.
“Ya, ke pesta sekolah dong, Non! Emangnya kemana lagi, udah sana cepetan”
Buru-buru aku berlari ke kamar dan mengganti pakaianku. Gaun hadiah dari Ayahku setahun yang lalu menjadi pilihanku malam itu. Dan ketika aku menemui Yudhis kembali, dia memandangku dengan terkesima.
“Kenapa?”
“Aku enggak nyangka, ternyata kamu cantik banget kalau dandan”
Itu adalah pujian pertama yang kudengar dari mulut Yudhis. Maklum, biasanya dia selalu mengejekku karena selalu berpakaian seenaknya dan tidak pernah dandan layaknya seorang wanita.
“Ya udah, ah! jalan yuk, ntar terlambat lagi” Ajakku.
Dengan mobil CR-V milik Yudhis, kami pun beranjak menuju sekolah. Malam itu, jalanan begitu sepi. Hujan yang mengguyur kota Bandung tadi sore membuat udara menjadi dingin, hingga orang-orang segan untuk keluar rumah. Yang ada hanyalah segelintir binatang malam yang dengan penuh semangat hidup mencari makan di keremangan malam. Sambil terus menyetir, kulirik Yudhis sesekali menggerakkan bibirnya mengikuti alunan lagu “Kisah Klasik” milik Sheila On 7. Agak tersenyum geli aku memperhatikannya. Aku yakin, jika saja banyak orang yang mendengarkannya, maka setelah malam itu omset penjualan kaset Sheila On 7 akan mengalami penurunan yang drastis.
“Kenapa senyum-senyum?” Yudhis melirikku ketika mobil kami terhenti oleh lampu merah. “Kamu pasti mau ngeledek suaraku, ya?”
Aku menggeleng. Bohong. “Enggak… suara kamu bagus kok!”
“Makasih! Baru tau, ya?”
“Lebih bagus lagi kalau diam”
Sejam kemudian akhirnya kami tiba. Malam itu sekolah benar-benar ramai tak seperti biasanya. Suara alunan musik berdentum keras dari aula yang dirubah menjadi tempat pesta. Aku dan Yudhis bergegas turun dari mobil dan menuju aula sekolah.
Malam itu, kami benar-benar larut dalam meriahnya pesta. Kami seperti terbebas dari segala beban yang selalu menguntit kami selama 3 tahun kami belajar di sekolah. Maklum aja, malam itu adalah malam perpisahan kami dengan sekolah.
Lamunanku langsung buyar ketika Rendy menepuk pundakku memberitahukan kalau Bu Necy Astrea sudah datang.
****
Jam 5 sore, aku tiba di rumah. Sepi. Tidak ada satupun orang di rumah. Di meja tamu kudapati secarik kertas berisikan pesan dari Ibu. Rupanya Ibu dan Rani pergi ke rumah Tante Yanti, teman Ibu semasa sekolah.
Dengan langkah agak gontai, kumasuki kamarku. Kurasakan, letih dan penat setelah seharian bergelut dengan tiga mata kuliah terus menggelayuti tubuhku. Kurebahkan tubuhku diatas kasur. Fiiuuuhh…..I’m very tired this day. Mataku begitu perih.
Setelah istirahat sebentar, aku kemudian mandi dan ganti baju. Kemudian aku berjalan keluar kamar menuju teras rumah. Dan lagi-lagi aku teringat pada Yudhis. Entah kenapa sosoknya masih terus menggerayangi pikiranku. Sepertinya aku masih tidak dapat mempercayai kematiannya. Ingatanku pun kembali hari dimana Yudhis menghembuskan nafas terakhirnya dihadapanku.
Waktu itu, mega terlihat mulai memerah menyambut datangnya malam ketika aku sampai di rumah sakit Kurnia. Dengan hati yang terus gelisah, aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang cukup panjang. Kabar yang kudengar dari orang tua Yudhis telah membuatku resah sejak perjalanan tadi.
Setibanya di ruang ICU, aku menghentikan langkahku. Kulihat kedua orang tua Yudhis sedang berdiri dengan raut wajah yang sangat sedih di depan kaca yang memisahkan mereka dengan Yudhis yang tengah terbaring tak berdaya di dalam ruangan berukuran cukup besar, berdampingan pada sebuah kursi panjang di luar kamar rawat.
“Citra, kok malah bengong? Kesini!” Rupanya Orang tua Yudhis menyadari kedatanganku.
Aku menurutinya. Dengan berat, kulangkahkan kakiku menghampiri kedua orang tua Yudhis. Setelah ngobrol sejenak, kami lantas masuk dalam ruangan dengan mengenakan masker dan jas demi menjaga ruangan tetap steril. Dengan perlahan, kami menghampiri Yudhis yang masih terbaring tak berdaya. Sungguh memilukan. Tubuhnya yang dulu gemuk dan sehat kini berubah tinggal tulang berbalut kulit.
“Yudhis, ini Citra datang!”
Tapi Yudhis tidak menyahut. Jangankan menengok, membuka mata saja tidak. Menyaksikan kondisi Yudhis yang memprihatinkan, aku tak mampu membendung air matanya. Aku pun menangis terisak. Tak kuasa diriku menahan pilu.
Suasana malam itu berubah sunyi. Yang terdengar hanyalah isak tangisku dan orang tua Yudhis. Kami seperti tak percaya jika Yudhis menderita HIV/AIDS. Selama ini Yudhis terlihat sehat-sehat saja di depan kami. Tidak ada hal yang ganjil pada diri Yudhis.
Disaat aku terus menangis, tiba-tiba saja jemari Yudhis bergerak. Matanya perlahan membuka. Lalu melirik ke arahku.
“Cit…Cit…Citra,” Suara Yudhis terbata-bata.
“Iya… iya, ini aku, Citra!”
“Ma… Ma…. Maafin aku ka… ka….karena enggak dengar nasihat kamu”
Aku mengangguk sambil terus terisak.
Setelah itu Yudhis kembali memejamkan matanya. Tapi, bukan tidur. Yudhis memejamkan mata untuk selamanya. Menyaksikan hal itu, aku semakin tidak mampu membendung air mataku. Begitu juga dengan kedua orang tua Yudhis. Mereka menangis begitu histeris. Sekejap ruangan itu berubah menjadi lautan air mata.
Aku benar-benar terpukul dengan kepergian Yudhis. Sejak itu, entah kenapa aku jadi begitu benci dengan yang namanya HIV/AIDS. Sejak itu pula aku jadi aktif di Stigma, sebuah lembaga yang sangat giat dalam memerangi HIV/AIDS.
****
Biarkan Cinta itu Tumbuh (cerpen)
Oleh : Rachmat Nugraha
Hujan mulai mengguyur kota Jakarta ketika Vina duduk sendiri di dalam café Bona. Pertemuannya dengan Rizky kemarin begitu mengusik pikirannya.
“Rizky! Hhh….”
Nama itu terus-menerus terngiang di telinganya. Wajah cowok itu tak henti-hentinya memadati setiap ruang pikirannya. Sepertinya dia tidak mampu mengenyahkan bayangan Rizky yang selalu mengiringi langkahnya sejak rendevouze mereka di Plaza Senayan sebulan lalu. Terdengar helaan napas panjang dari Vina.
Vina melirik jam tangannya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dengan malas, dia kemudian bangkit dari duduknya. Namun, dia tidak beranjak dari situ. Dia hanya berdiri menghadap danau kecil di luar cafe. Tatapannya kosong. Entah kenapa, dirinya seperti kembali diseret ke masa-masa saat dia masih bersama Rizky.
Vina mencoba menepis kenangan itu, tapi tak bisa. Bayangan masa lalu itu justru semakin kuat mencengkram dirinya. Rupanya, begitu sulit menyingkirkan sebuah masa lalu.
“Vina..!” Terdengar suara dari belakangnya.
Vina langsung berbalik. Ternyata Yunita.
“Eh, elo! Sendirian?”
“He-em!”
Yunita kemudian menjatuhkan pantatnya di kursi. Vina mengikutinya
“Vin, elo beruntung ya!”Kata Yunita pelan.
“Beruntung… beruntung kenapa?” Vina mengerutkan dahinya.
“Iya, elo beruntung! Punya cowok yang begitu baik sama elo. Liat aja, Wisnu setia banget sama elo. Selalu ada setiap elo butuhin”
Vina tersenyum dikulum. “Kayaknya elo lagi ada masalah ya?”
Yunita mengangguk. “Cowok gua…”
“Kenapa sama cowok elo?”
“Dia selingkuh”
“Ya udah, sabar aja ya! mungkin dia emang bukan yang terbaik buat elo”
Vina lalu terdiam. Dipikirkannya kata-kata Yunita tadi. Ya, Yunita memang benar. Dia memang beruntung karena telah memiliki Wisnu yang begitu setia pada dirinya. Tapi, Yunita tidak tahu kalau sebenarnya saat ini dia sangat merasa bersalah karena telah menyakiti cowok itu. Dia kini terjebak diantara dua cinta. Wisnu dan Rizky. Hhh… seandainya saja dulu aku dan Rizky enggak berpisah, mungkin keadaannya enggak akan kayak ini, batinnya.
****
Di kamar, malam itu Vina membuka kembali surat-surat dari Rizky. Satu-persatu dibacanya. Kata-katanya begitu romantis. Puitis. Dia jadi tersenyum sendiri membacanya. Entah mengapa tiba-tiba saja dia begitu rindu pada Rizky.
“Duh, lagi baca surat dari pacar, ya!”
“Eh, mamah! Ngagetin aja!”
Buru-buru Vina melipat kembali surat digenggamannya.
“Kamu malu ya?”Desis Bu Sifa menggoda.
“Udah tahu, nanya!”
“Ya udah deh, Mamah pergi”
Setelah kepergian Ibunya, Vina kembali membaca surat-surat Rizky yang masih disimpannya dengan rapih itu. Sekejap, dia kembali menerawang ke masa lalu. Saat-saat indah sewaktu bersama Rizky. Mendadak Vina teringat ucapan Rizky kemarin siang yang memintanya untuk kembali padanya. Saat itu dia tidak menjawab. Vina bingung. Satu sisi dia harus mengakui bahwa cinta Rizky telah kembali hadir dalam hatinya. Tapi, disisi lain dia juga tidak bisa mengkhianati cinta Wisnu yang begitu tulus pada dirinya.
Hhh! Ya, Tuhan… aku mohon, berikanlah aku petunjuk agar aku dapat memilih satu diantara mereka, gumam Vina dalam hati.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Bergegas Vina merapihkan surat-surat yang tadi dibacanya dan memasukkannya kembali ke dalam lemari.
****
Sepanjang jalan Wisnu sama sekali diam. Tak ada satupun kata keluar dari mulutnya. Dia hanya berjalan di samping Yunita dengan wajah yang masam.
“Wisnu?”Tegur Vina bingung.
Digenggamnya jemari tangan Wisnu yang masih terdiam.
“Kamu kenapa sih?” Desak Vina penasaran. “Kamu marah, ya?”
“Kelihatannya gimana?” Sahut Wisnu dingin.
Akhirnya dia bicara juga.
“Kelihatannya sih gitu, emangnya ada apa sih?”
“Sudah berapa lama kamu hubungan sama Rizky?” Suara Wisnu terdengar datar.
Vina terperangah kaget. dia heran darimana Wisnu bisa tahu hubungannya dengan Rizky.
“Kenapa, bingung jawabnya?”Katanya lagi.
“Kamu tahu darimana?”
“Enggak penting aku tahu darimana, sekarang kamu jawab aja pertanyaanku!”
Vina menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan jujur sama kamu! Hubungan aku sama dia sebenarnya sudah lama. Aku pernah pacaran sama dia dulu”
“Terus sekarang?”
Vina tak bisa menjawab. Dia tak tahu harus bicara apa. Dia tidak bisa memungkiri perasaannya terhadap Rizky. Tapi, dia juga tidak ingin kehilangan cowok yang saat ini ada didepannya.
“Kenapa diam?”
“Sudahlah, Nu! Kita enggak usah bahas ini lagi, dia bukan apa-apaku kok” Kata Vina berbohong.
“Terserah kamu deh!”
Suasana menjadi hening. Yang terdengar hanyalah suara kicauan burung yang menyambut hari dengan riangnya.
****
Sesampainya di rumah, Vina langsung berdiam diri di kamar. Dia menangis. Dia mencoba merenungi kembali kata-kata yang telah dia ucapkan. Dia tahu dia telah membohongi Wisnu. Tapi, itu terpaksa dia lakukan karena dia tak ingin melukai hati cowok itu.
Sebenarnya dia ingin sekali jujur pada Wisnu. Ingin sekali dia mengatakan bahwa cinta Rizky telah kembali hadir dalam hatinya. Namun, kenyataan itu terpaksa dipendamnya. Itu dia lakukan karena dia tidak ingin menyakiti Wisnu. Wisnu telah begitu baik pada dirinya. Cintanya begitu tulus. Dan kini dia telah mengkhianati ketulusan cinta Wisnu.
“Vina, kamu kenapa?” Tanya Bu Sifa melihat anak gadisnya menangis.
Dia lalu menghampiri anak gadisnya itu dan memeluknya dengan penuh kelembutan. “Ada masalah? Cerita dong sama mamah ” Sambungnya.
Vina mengangguk pelan. Dia pun menceritakan semuanya. Dari mulai pertemuannya dengan Rizky, sampai rasa cintanya pada Rizky yang kembali memenuhi setiap ruang hatinya yang menyebabkan hubungannya dengan Wisnu mengalami sedikit keretakan. Atau bahkan, terancam bubar.
“Vina, mamah rasa kamu harus memilih satu diantara mereka!” Kata Bu Sifa memberi saran.
“Tapi mah, saat ini Vina belum siap! Apalagi Wisnu begitu baik sama Vina. Vina enggak tega”
“Terus kapan kamu siapnya? Itu sama saja kamu mempermainkan mereka”
Mamah memang benar. Aku memang harus memilih. Tapi, enggak sekarang. Aku belum siap. Aku masih ingin keduanya berada disisiku. Aku belum siap untuk kehilangan salah satunya, Vina terus membatin. Biarlah waktu yang menentukan semuanya.
****
Sudah hampir dua minggu Vina tidak bertemu dengan Rizky. Sejak pertemuan terakhirnya dengan cowok itu di café Bona ketika Rizky memintanya untuk kembali, Rizky sama sekali tidak menghubungi atau bahkan menemui dirinya. Dan tadi sore, dia justru mendapatkan sms yang cukup mengejutkan dari Rizky . Dalam smsnya Rizky mengatakan kalau mulai detik ini dia mungkin tidak bisa menemuinya lagi. Selain itu, dalam smsnya, Rizky juga berulang kali meminta maaf pada Vina. Vina benar-benar tidak mengerti apa maksud Rizky mengirim sms seperti itu.
Vina telah mencoba menghubungi handphone Rizky, tapi tidak aktif . dia juga telah berulang kali menghubunginya melalui telepon rumah. Tapi, berulang kali dia mencoba, berulang kali juga tidak ada yang mengangkat.
Vina lalu memaksakan kakinya melangkah keluar rumah dan duduk di kursi teras rumahnya. malam itu, langit terlihat begitu cerah. Bintang-bintang bertaburan menghiasi langit, menunjukkan sinarnya yang terang. Vina tersenyum sambil terus memandangi langit. Dia mencoba melupakan sejenak rasa penat yang ada dalam dirinya. Tapi, ingatannya terus tertuju pada Rizky. Dia masih belum bisa mengerti kata-kata Rizky sore tadi. Tapi, apapun maksudnya dia tidak ingin berpisah dengan Rizky.
Malam itu Vina tak bisa menutupi kegundahan hatinya. Gundah karena dia tidak ingin kehilangan Rizky, cinta pertama yang telah kembali bersemi dihatinya. Gundah karena dia tidak tahu harus memilih siapa.
****
“Vina, barusan Wisnu nelpon. Katanya, dia kepingin ketemu kamu besok!” Kata Bu Sifa begitu Vina sampai di rumah.
Mendengar itu, Vina tidak terlihat senang. Hatinya terlalu disesaki oleh rasa gundah. Dia terlalu sibuk memikirkan Rizky yang sudah dua minggu ini menghilang.
“Makasih ya, Mah!” Sahutnya sambil terus berjalan masuk kamar.
Bu Sifa sangat heran melihat sikap Vina. Bergegas dia menemui gadis itu di kamarnya.
“Vina” Pelan-pelan dia duduk di samping anaknya yang sedang merebahkan tubuhnya di pembaringan. Dibelainya rambut Vina dengan penuh kelembutan. “Ada apa? Kok mamah lihat beberapa hari ini kamu diam aja” Sambungnya.
Awalnya Vina bungkam. Tapi, setelah didesak akhirnya dia pun bercerita tentang kegalauan hatinya beberapa hari terakhir ini.
“Kamu benar-benar mencintai Rizky?” Tanya Bu Sifa.
Vina mengangguk mengiyakan. Raut wajahnya memancarkan kesedihan.
“Kalau begitu, kamu temui dia. Katakan kalau kamu ingin kembali sama dia”
“Tapi, Wisnu?”
“Mamah yakin, Wisnu memiliki jiwa yang besar untuk bisa menerima kenyataan ini” Kata-kata Bu Sifa terdengar begitu bijak.
“Makasih ya, Mah” Vina memeluk tubuh wanita paruh baya yang sangat dicintainya itu.
****
Vina begitu berbeda dari biasanya. Tidak ada sedikitpun senyuman di wajahnya. Dan itu membuat Wisnu bingung.
“Kamu kenapa? kok diam aja?” Tanyanya.
Vina menggeleng. “Enggak… enggak apa-apa kok!”
Wisnu tidak langsung percaya. Dia tetap merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis itu. “Bener, enggak apa-apa?”
“Iya, bener!”
Karena tak ingin berdebat, Wisnu lalu mengajak Vina ke KFC. Restaurant cepat saji itu terlihat begitu ramai. Begitu banyak pengunjung yang memadati tempat itu. Wisnu lantas langsung antri di depan kasir untuk memesan makanan. Sementara, Vina mencari tempat yang nyaman untuk duduk Sambil duduk, Vina terus memikirkan Rizky. Dia merasa harus segera menemui cowok itu. dan sekarang sudah saatnya dia bicara jujur pada Wisnu.
“Kok, ngelamun aja! Lagi mikiran siapa?” Tiba-tiba saja Wisnu sudah duduk didepannya.
“Ah nggak, lagi pengen bengong aja” ujar Vina gelagapan.
“Ayo, makan!”
Vina hanya mengangguk. Tapi, dia sama sekali tidak menyentuh makanan yang ada dihadapannya.
“Kok enggak dimakan?” Tanya Wisnu melihat Vina sama sekali tidak menyentuh makanannya. “Kamu enggak suka?”
“Enggak, aku suka kok!”
“Terus, kenapa enggak dimakan?”
“Iya…iya, aku makan!”
Dengan malas, Vina kemudian menyentuh makanan yang dipesan Wisnu untuknya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan makanannya. Hanya saja, saat ini dia sedang tidak bersemangat. Nafsu makannya telah dikalahkan oleh rasa rindunya pada Rizky . Melihat Vina seperti itu, lama-lama Wisnu jengah juga.
“Vina, kenapa sih , kok kelihatannya kamu enggak bergairah banget ketemu aku?” Desisnya menahan kesal.
“Enggak… enggak apa-apa, aku senang ketemu sama kamu! Aku lagi kurang enak badan aja kok”
“Kamu lagi mikirin Rizky, ya?”
Zahra tak menyahut.
“Kok diam? Wisnu menghela napas panjang. “Kenapa, kamu malu mengakuinya?”
Vina tertunduk. Menarik napas dalam-dalam.
“Wisnu, mungkin sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita” Desisnya pelan.
Wisnu langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan Vina. “Kenapa?”
“Aku…. Aku ingin kembali sama Rizky. Aku mencintainya!”
“Jadi, selama ini kamu sudah membohongi aku?”
Vina mengangguk pelan. “Maafin aku, Nu. Aku sudah berusaha untuk mempertahankan hubungan kita. Tapi, aku juga enggak bisa memungkiri perasaanku sendiri. Aku enggak bisa membohongi diriku sendiri, kalau ternyata cinta Rizky telah kembali bersemi dalam hatiku”
“Jadi, itu keputusan kamu?”
Vina mengangguk mengiyakan. Dia tahu keputusannya ini telah sangat menyakitkan Wisnu. Tapi, dia harus melakukannya. Karena kini dia benar-benar menyadari jika dia ternyata lebih mencintai Rizky.
“Baik, kalau memang itu keputusan kamu, aku bisa terima. Terima kasih atas kesempatan yang kamu berikan, selamat tinggal!” Wisnu langsung bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Vina sendiri.
Vina tidak bisa mencegahnya. Dia mengerti betapa sakitnya hati Wisnu. Dia dapat merasakan perihnya hati cowok itu. Sama perihnya dengan hatinya saat ini. Perih karena pada akhirnya dia harus membuat keputusan yang menyakitkan bagi mereka berdua.
****
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Vina terlihat berbaring sambil termenung sendiri di kamarnya. Dia terus saja memikirkan Rizky. Sudah lebih dari dua minggu Rizky menghilang. Tapi, sampai sekarang belum juga ada kabar dari cowok itu. dia sudah mencoba mendatangi rumah Rizky. Tapi, pintu gerbangnya terkunci. Tetangganya pun tidak ada yang tahu kemana Rizky dan keluarganya pergi.
Tiba-tiba saja bunyi suara handphone yang sistematis mengusik lamunannya. Vina lalu bangkit dari tidurnya dan meraih HP Sony Ericsson yang diletakkan diatas meja.
“Ada apaa, Yun?” Tanya Vina begitu tahu Yunita yang menelponnya.
“Hallo, Vin! Besok bisa ketemu enggak? gua ada kabar soal Rizky nih, penting!”
“Rizky? Kenapa dia?”
“Ehm… besok deh gua ceritain!”
“Ya udah, kita ketemuan dimana?
“Di café Bona, ya!”
“Jam berapa?”
“Jam 2!”
“Ya udah, sampai ketemu besok ya!”
Ada apa ya?, Tanya Vina dalam hati. Dia merasa ada sesuatu terjadi pada Rizky. Dan itu telah membuat hatinya gundah. Berbagai macam pertanyaan pun mulai menghigapi otaknya. Kecelakaankah dia? atau sakitkah? Atau…?.
“Aahh! Kenapa sih Yunita enggak langsung ngomong aja di telepon,” Vina menggerutu sendiri.
****
“Rizky kenapa, Yun?” Tanya Vina kebingungan.
Vina menarik napas panjang. Dia merasa tak kuasa memberitahukan keadaan Rizky pada Vina. Tapi, apa boleh buat. Bagaimanapun juga dia harus mengatakannya.
“Rizky…”
“Rizky kenapa?” Potong Vina penasaran.
“Rizky masuk rumah sakit!” Desah Yunita pelan.
Sontak Vina terhenyak. “Dirawat? Memangnya dia sakit apa?”
Dengan perlahan, Yunita menceritakan semuanya. Termasuk penyakit yang diderita oleh Rizky. Vina yang mendengarnya langsung menitikkan air mata. Dia tak kuasa menahan tangis mendengar orang yang dia cintai kini terbaring lemah tak berdaya karena penyakit yang selama ini disembunyikan Rizky darinya.
“Yun, tolong antar gua ke rumah sakit sekarang!” .
“Ayo!”
Mereka pun kemudian beranjak menuju rumah sakit tempat Rizky dirawat. Selama perjalanan, Vina lebih banyak diam. Pikirannya terus tertuju pada Rizky.
“Vin, kita sudah sampai!” Cetus Yunita begitu tiba di rumah sakit.
Vina lalu turun dari mobil dan berjalan masuk mengikuti Yunita..
Setibanya di ruangan ICU, mereka bertemu dengan kedua orang tua Rizky. Pasangan suami istri paruh baya itu terlihat sedang berdiri dengan raut wajah yang sangat sedih di depan kaca yang memisahkan mereka dengan Rizky yang tengah terbaring tak berdaya di dalam ruangan berukuran cukup besar. berdampingan pada sebuah kursi panjang di luar kamar rawat.
“Kamu, Vina ya?” Tanya Pak Beni, Ayah Rizky.
Vina hanya mengangguk sambil tersenyum mengiyakan.
“Rizky sudah cerita banyak soal kamu. Ternyata benar, kamu memang cantik” Istri pak Beni ikut bicara.
Dengan ditemani Yunita, Vina kemudian masuk ke dalam kamar rawat. Dilihatnya Rizky sedang terbaring tak berdaya. Vina menangis. Dia tak kuasa menahan sedih menyaksikan kondisi Rizky. Digenggamnya jemari Rizky yang dingin
“Rizky, kamu enggak boleh pergi? Aku ingin kembali sama kamu. Kini… kini hanya cinta kamu yang tumbuh dihatiku” Desis Vina lirih. “Please, bertahanlah demi aku” Lanjutnya.
Tiba-tiba saja jemari Rizky bergerak. Matanya perlahan membuka. Lalu melirik ke Vina.
“Yun…” Vina memalingkan wajahnya ke Yunita.
Yunita tersenyum.
“Vi…Vi…Vina,” Suara Rizky terbata-bata.
“Iya… iya, ini aku Vina!”
Bi… bi…biarkan cinta itu terus tumbuh dalam hatimu”
Setelah itu Rizky kembali memejamkan matanya. Tapi, bukan tidur. Rizky memejamkan mata untuk selamanya. Menyaksikan hal itu, Vina langsung meneteskan air matanya. Yunita yang sedari tadi berdiri disamping Vina bergegas memanggil kedua orang tua Rizky. Sekejap ruangan itu berubah menjadi lautan air mata.
“Rizky, kamu jangan pergi… kamu enggak boleh pergi” Vina menangis tersedu.
“Sudahlah, Vin! Kita relakan saja kepergiannya” Yunita merangkul pundak Vina.
Pemandangan itu membuat seisi ruangan makin terenyuh. Vina benar-benar terpukul dengan kepergian Rizky. Dia tidak mengira jika Rizky akan pergi meninggalkannya secepat ini. Kini dia hanya bisa pasrah menerima kenyataan ini. Dia harus merelakan kepergian Rizky.
****
Hujan mulai mengguyur kota Jakarta ketika Vina duduk sendiri di dalam café Bona. Pertemuannya dengan Rizky kemarin begitu mengusik pikirannya.
“Rizky! Hhh….”
Nama itu terus-menerus terngiang di telinganya. Wajah cowok itu tak henti-hentinya memadati setiap ruang pikirannya. Sepertinya dia tidak mampu mengenyahkan bayangan Rizky yang selalu mengiringi langkahnya sejak rendevouze mereka di Plaza Senayan sebulan lalu. Terdengar helaan napas panjang dari Vina.
Vina melirik jam tangannya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dengan malas, dia kemudian bangkit dari duduknya. Namun, dia tidak beranjak dari situ. Dia hanya berdiri menghadap danau kecil di luar cafe. Tatapannya kosong. Entah kenapa, dirinya seperti kembali diseret ke masa-masa saat dia masih bersama Rizky.
Vina mencoba menepis kenangan itu, tapi tak bisa. Bayangan masa lalu itu justru semakin kuat mencengkram dirinya. Rupanya, begitu sulit menyingkirkan sebuah masa lalu.
“Vina..!” Terdengar suara dari belakangnya.
Vina langsung berbalik. Ternyata Yunita.
“Eh, elo! Sendirian?”
“He-em!”
Yunita kemudian menjatuhkan pantatnya di kursi. Vina mengikutinya
“Vin, elo beruntung ya!”Kata Yunita pelan.
“Beruntung… beruntung kenapa?” Vina mengerutkan dahinya.
“Iya, elo beruntung! Punya cowok yang begitu baik sama elo. Liat aja, Wisnu setia banget sama elo. Selalu ada setiap elo butuhin”
Vina tersenyum dikulum. “Kayaknya elo lagi ada masalah ya?”
Yunita mengangguk. “Cowok gua…”
“Kenapa sama cowok elo?”
“Dia selingkuh”
“Ya udah, sabar aja ya! mungkin dia emang bukan yang terbaik buat elo”
Vina lalu terdiam. Dipikirkannya kata-kata Yunita tadi. Ya, Yunita memang benar. Dia memang beruntung karena telah memiliki Wisnu yang begitu setia pada dirinya. Tapi, Yunita tidak tahu kalau sebenarnya saat ini dia sangat merasa bersalah karena telah menyakiti cowok itu. Dia kini terjebak diantara dua cinta. Wisnu dan Rizky. Hhh… seandainya saja dulu aku dan Rizky enggak berpisah, mungkin keadaannya enggak akan kayak ini, batinnya.
****
Di kamar, malam itu Vina membuka kembali surat-surat dari Rizky. Satu-persatu dibacanya. Kata-katanya begitu romantis. Puitis. Dia jadi tersenyum sendiri membacanya. Entah mengapa tiba-tiba saja dia begitu rindu pada Rizky.
“Duh, lagi baca surat dari pacar, ya!”
“Eh, mamah! Ngagetin aja!”
Buru-buru Vina melipat kembali surat digenggamannya.
“Kamu malu ya?”Desis Bu Sifa menggoda.
“Udah tahu, nanya!”
“Ya udah deh, Mamah pergi”
Setelah kepergian Ibunya, Vina kembali membaca surat-surat Rizky yang masih disimpannya dengan rapih itu. Sekejap, dia kembali menerawang ke masa lalu. Saat-saat indah sewaktu bersama Rizky. Mendadak Vina teringat ucapan Rizky kemarin siang yang memintanya untuk kembali padanya. Saat itu dia tidak menjawab. Vina bingung. Satu sisi dia harus mengakui bahwa cinta Rizky telah kembali hadir dalam hatinya. Tapi, disisi lain dia juga tidak bisa mengkhianati cinta Wisnu yang begitu tulus pada dirinya.
Hhh! Ya, Tuhan… aku mohon, berikanlah aku petunjuk agar aku dapat memilih satu diantara mereka, gumam Vina dalam hati.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Bergegas Vina merapihkan surat-surat yang tadi dibacanya dan memasukkannya kembali ke dalam lemari.
****
Sepanjang jalan Wisnu sama sekali diam. Tak ada satupun kata keluar dari mulutnya. Dia hanya berjalan di samping Yunita dengan wajah yang masam.
“Wisnu?”Tegur Vina bingung.
Digenggamnya jemari tangan Wisnu yang masih terdiam.
“Kamu kenapa sih?” Desak Vina penasaran. “Kamu marah, ya?”
“Kelihatannya gimana?” Sahut Wisnu dingin.
Akhirnya dia bicara juga.
“Kelihatannya sih gitu, emangnya ada apa sih?”
“Sudah berapa lama kamu hubungan sama Rizky?” Suara Wisnu terdengar datar.
Vina terperangah kaget. dia heran darimana Wisnu bisa tahu hubungannya dengan Rizky.
“Kenapa, bingung jawabnya?”Katanya lagi.
“Kamu tahu darimana?”
“Enggak penting aku tahu darimana, sekarang kamu jawab aja pertanyaanku!”
Vina menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan jujur sama kamu! Hubungan aku sama dia sebenarnya sudah lama. Aku pernah pacaran sama dia dulu”
“Terus sekarang?”
Vina tak bisa menjawab. Dia tak tahu harus bicara apa. Dia tidak bisa memungkiri perasaannya terhadap Rizky. Tapi, dia juga tidak ingin kehilangan cowok yang saat ini ada didepannya.
“Kenapa diam?”
“Sudahlah, Nu! Kita enggak usah bahas ini lagi, dia bukan apa-apaku kok” Kata Vina berbohong.
“Terserah kamu deh!”
Suasana menjadi hening. Yang terdengar hanyalah suara kicauan burung yang menyambut hari dengan riangnya.
****
Sesampainya di rumah, Vina langsung berdiam diri di kamar. Dia menangis. Dia mencoba merenungi kembali kata-kata yang telah dia ucapkan. Dia tahu dia telah membohongi Wisnu. Tapi, itu terpaksa dia lakukan karena dia tak ingin melukai hati cowok itu.
Sebenarnya dia ingin sekali jujur pada Wisnu. Ingin sekali dia mengatakan bahwa cinta Rizky telah kembali hadir dalam hatinya. Namun, kenyataan itu terpaksa dipendamnya. Itu dia lakukan karena dia tidak ingin menyakiti Wisnu. Wisnu telah begitu baik pada dirinya. Cintanya begitu tulus. Dan kini dia telah mengkhianati ketulusan cinta Wisnu.
“Vina, kamu kenapa?” Tanya Bu Sifa melihat anak gadisnya menangis.
Dia lalu menghampiri anak gadisnya itu dan memeluknya dengan penuh kelembutan. “Ada masalah? Cerita dong sama mamah ” Sambungnya.
Vina mengangguk pelan. Dia pun menceritakan semuanya. Dari mulai pertemuannya dengan Rizky, sampai rasa cintanya pada Rizky yang kembali memenuhi setiap ruang hatinya yang menyebabkan hubungannya dengan Wisnu mengalami sedikit keretakan. Atau bahkan, terancam bubar.
“Vina, mamah rasa kamu harus memilih satu diantara mereka!” Kata Bu Sifa memberi saran.
“Tapi mah, saat ini Vina belum siap! Apalagi Wisnu begitu baik sama Vina. Vina enggak tega”
“Terus kapan kamu siapnya? Itu sama saja kamu mempermainkan mereka”
Mamah memang benar. Aku memang harus memilih. Tapi, enggak sekarang. Aku belum siap. Aku masih ingin keduanya berada disisiku. Aku belum siap untuk kehilangan salah satunya, Vina terus membatin. Biarlah waktu yang menentukan semuanya.
****
Sudah hampir dua minggu Vina tidak bertemu dengan Rizky. Sejak pertemuan terakhirnya dengan cowok itu di café Bona ketika Rizky memintanya untuk kembali, Rizky sama sekali tidak menghubungi atau bahkan menemui dirinya. Dan tadi sore, dia justru mendapatkan sms yang cukup mengejutkan dari Rizky . Dalam smsnya Rizky mengatakan kalau mulai detik ini dia mungkin tidak bisa menemuinya lagi. Selain itu, dalam smsnya, Rizky juga berulang kali meminta maaf pada Vina. Vina benar-benar tidak mengerti apa maksud Rizky mengirim sms seperti itu.
Vina telah mencoba menghubungi handphone Rizky, tapi tidak aktif . dia juga telah berulang kali menghubunginya melalui telepon rumah. Tapi, berulang kali dia mencoba, berulang kali juga tidak ada yang mengangkat.
Vina lalu memaksakan kakinya melangkah keluar rumah dan duduk di kursi teras rumahnya. malam itu, langit terlihat begitu cerah. Bintang-bintang bertaburan menghiasi langit, menunjukkan sinarnya yang terang. Vina tersenyum sambil terus memandangi langit. Dia mencoba melupakan sejenak rasa penat yang ada dalam dirinya. Tapi, ingatannya terus tertuju pada Rizky. Dia masih belum bisa mengerti kata-kata Rizky sore tadi. Tapi, apapun maksudnya dia tidak ingin berpisah dengan Rizky.
Malam itu Vina tak bisa menutupi kegundahan hatinya. Gundah karena dia tidak ingin kehilangan Rizky, cinta pertama yang telah kembali bersemi dihatinya. Gundah karena dia tidak tahu harus memilih siapa.
****
“Vina, barusan Wisnu nelpon. Katanya, dia kepingin ketemu kamu besok!” Kata Bu Sifa begitu Vina sampai di rumah.
Mendengar itu, Vina tidak terlihat senang. Hatinya terlalu disesaki oleh rasa gundah. Dia terlalu sibuk memikirkan Rizky yang sudah dua minggu ini menghilang.
“Makasih ya, Mah!” Sahutnya sambil terus berjalan masuk kamar.
Bu Sifa sangat heran melihat sikap Vina. Bergegas dia menemui gadis itu di kamarnya.
“Vina” Pelan-pelan dia duduk di samping anaknya yang sedang merebahkan tubuhnya di pembaringan. Dibelainya rambut Vina dengan penuh kelembutan. “Ada apa? Kok mamah lihat beberapa hari ini kamu diam aja” Sambungnya.
Awalnya Vina bungkam. Tapi, setelah didesak akhirnya dia pun bercerita tentang kegalauan hatinya beberapa hari terakhir ini.
“Kamu benar-benar mencintai Rizky?” Tanya Bu Sifa.
Vina mengangguk mengiyakan. Raut wajahnya memancarkan kesedihan.
“Kalau begitu, kamu temui dia. Katakan kalau kamu ingin kembali sama dia”
“Tapi, Wisnu?”
“Mamah yakin, Wisnu memiliki jiwa yang besar untuk bisa menerima kenyataan ini” Kata-kata Bu Sifa terdengar begitu bijak.
“Makasih ya, Mah” Vina memeluk tubuh wanita paruh baya yang sangat dicintainya itu.
****
Vina begitu berbeda dari biasanya. Tidak ada sedikitpun senyuman di wajahnya. Dan itu membuat Wisnu bingung.
“Kamu kenapa? kok diam aja?” Tanyanya.
Vina menggeleng. “Enggak… enggak apa-apa kok!”
Wisnu tidak langsung percaya. Dia tetap merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis itu. “Bener, enggak apa-apa?”
“Iya, bener!”
Karena tak ingin berdebat, Wisnu lalu mengajak Vina ke KFC. Restaurant cepat saji itu terlihat begitu ramai. Begitu banyak pengunjung yang memadati tempat itu. Wisnu lantas langsung antri di depan kasir untuk memesan makanan. Sementara, Vina mencari tempat yang nyaman untuk duduk Sambil duduk, Vina terus memikirkan Rizky. Dia merasa harus segera menemui cowok itu. dan sekarang sudah saatnya dia bicara jujur pada Wisnu.
“Kok, ngelamun aja! Lagi mikiran siapa?” Tiba-tiba saja Wisnu sudah duduk didepannya.
“Ah nggak, lagi pengen bengong aja” ujar Vina gelagapan.
“Ayo, makan!”
Vina hanya mengangguk. Tapi, dia sama sekali tidak menyentuh makanan yang ada dihadapannya.
“Kok enggak dimakan?” Tanya Wisnu melihat Vina sama sekali tidak menyentuh makanannya. “Kamu enggak suka?”
“Enggak, aku suka kok!”
“Terus, kenapa enggak dimakan?”
“Iya…iya, aku makan!”
Dengan malas, Vina kemudian menyentuh makanan yang dipesan Wisnu untuknya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan makanannya. Hanya saja, saat ini dia sedang tidak bersemangat. Nafsu makannya telah dikalahkan oleh rasa rindunya pada Rizky . Melihat Vina seperti itu, lama-lama Wisnu jengah juga.
“Vina, kenapa sih , kok kelihatannya kamu enggak bergairah banget ketemu aku?” Desisnya menahan kesal.
“Enggak… enggak apa-apa, aku senang ketemu sama kamu! Aku lagi kurang enak badan aja kok”
“Kamu lagi mikirin Rizky, ya?”
Zahra tak menyahut.
“Kok diam? Wisnu menghela napas panjang. “Kenapa, kamu malu mengakuinya?”
Vina tertunduk. Menarik napas dalam-dalam.
“Wisnu, mungkin sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita” Desisnya pelan.
Wisnu langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan Vina. “Kenapa?”
“Aku…. Aku ingin kembali sama Rizky. Aku mencintainya!”
“Jadi, selama ini kamu sudah membohongi aku?”
Vina mengangguk pelan. “Maafin aku, Nu. Aku sudah berusaha untuk mempertahankan hubungan kita. Tapi, aku juga enggak bisa memungkiri perasaanku sendiri. Aku enggak bisa membohongi diriku sendiri, kalau ternyata cinta Rizky telah kembali bersemi dalam hatiku”
“Jadi, itu keputusan kamu?”
Vina mengangguk mengiyakan. Dia tahu keputusannya ini telah sangat menyakitkan Wisnu. Tapi, dia harus melakukannya. Karena kini dia benar-benar menyadari jika dia ternyata lebih mencintai Rizky.
“Baik, kalau memang itu keputusan kamu, aku bisa terima. Terima kasih atas kesempatan yang kamu berikan, selamat tinggal!” Wisnu langsung bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Vina sendiri.
Vina tidak bisa mencegahnya. Dia mengerti betapa sakitnya hati Wisnu. Dia dapat merasakan perihnya hati cowok itu. Sama perihnya dengan hatinya saat ini. Perih karena pada akhirnya dia harus membuat keputusan yang menyakitkan bagi mereka berdua.
****
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Vina terlihat berbaring sambil termenung sendiri di kamarnya. Dia terus saja memikirkan Rizky. Sudah lebih dari dua minggu Rizky menghilang. Tapi, sampai sekarang belum juga ada kabar dari cowok itu. dia sudah mencoba mendatangi rumah Rizky. Tapi, pintu gerbangnya terkunci. Tetangganya pun tidak ada yang tahu kemana Rizky dan keluarganya pergi.
Tiba-tiba saja bunyi suara handphone yang sistematis mengusik lamunannya. Vina lalu bangkit dari tidurnya dan meraih HP Sony Ericsson yang diletakkan diatas meja.
“Ada apaa, Yun?” Tanya Vina begitu tahu Yunita yang menelponnya.
“Hallo, Vin! Besok bisa ketemu enggak? gua ada kabar soal Rizky nih, penting!”
“Rizky? Kenapa dia?”
“Ehm… besok deh gua ceritain!”
“Ya udah, kita ketemuan dimana?
“Di café Bona, ya!”
“Jam berapa?”
“Jam 2!”
“Ya udah, sampai ketemu besok ya!”
Ada apa ya?, Tanya Vina dalam hati. Dia merasa ada sesuatu terjadi pada Rizky. Dan itu telah membuat hatinya gundah. Berbagai macam pertanyaan pun mulai menghigapi otaknya. Kecelakaankah dia? atau sakitkah? Atau…?.
“Aahh! Kenapa sih Yunita enggak langsung ngomong aja di telepon,” Vina menggerutu sendiri.
****
“Rizky kenapa, Yun?” Tanya Vina kebingungan.
Vina menarik napas panjang. Dia merasa tak kuasa memberitahukan keadaan Rizky pada Vina. Tapi, apa boleh buat. Bagaimanapun juga dia harus mengatakannya.
“Rizky…”
“Rizky kenapa?” Potong Vina penasaran.
“Rizky masuk rumah sakit!” Desah Yunita pelan.
Sontak Vina terhenyak. “Dirawat? Memangnya dia sakit apa?”
Dengan perlahan, Yunita menceritakan semuanya. Termasuk penyakit yang diderita oleh Rizky. Vina yang mendengarnya langsung menitikkan air mata. Dia tak kuasa menahan tangis mendengar orang yang dia cintai kini terbaring lemah tak berdaya karena penyakit yang selama ini disembunyikan Rizky darinya.
“Yun, tolong antar gua ke rumah sakit sekarang!” .
“Ayo!”
Mereka pun kemudian beranjak menuju rumah sakit tempat Rizky dirawat. Selama perjalanan, Vina lebih banyak diam. Pikirannya terus tertuju pada Rizky.
“Vin, kita sudah sampai!” Cetus Yunita begitu tiba di rumah sakit.
Vina lalu turun dari mobil dan berjalan masuk mengikuti Yunita..
Setibanya di ruangan ICU, mereka bertemu dengan kedua orang tua Rizky. Pasangan suami istri paruh baya itu terlihat sedang berdiri dengan raut wajah yang sangat sedih di depan kaca yang memisahkan mereka dengan Rizky yang tengah terbaring tak berdaya di dalam ruangan berukuran cukup besar. berdampingan pada sebuah kursi panjang di luar kamar rawat.
“Kamu, Vina ya?” Tanya Pak Beni, Ayah Rizky.
Vina hanya mengangguk sambil tersenyum mengiyakan.
“Rizky sudah cerita banyak soal kamu. Ternyata benar, kamu memang cantik” Istri pak Beni ikut bicara.
Dengan ditemani Yunita, Vina kemudian masuk ke dalam kamar rawat. Dilihatnya Rizky sedang terbaring tak berdaya. Vina menangis. Dia tak kuasa menahan sedih menyaksikan kondisi Rizky. Digenggamnya jemari Rizky yang dingin
“Rizky, kamu enggak boleh pergi? Aku ingin kembali sama kamu. Kini… kini hanya cinta kamu yang tumbuh dihatiku” Desis Vina lirih. “Please, bertahanlah demi aku” Lanjutnya.
Tiba-tiba saja jemari Rizky bergerak. Matanya perlahan membuka. Lalu melirik ke Vina.
“Yun…” Vina memalingkan wajahnya ke Yunita.
Yunita tersenyum.
“Vi…Vi…Vina,” Suara Rizky terbata-bata.
“Iya… iya, ini aku Vina!”
Bi… bi…biarkan cinta itu terus tumbuh dalam hatimu”
Setelah itu Rizky kembali memejamkan matanya. Tapi, bukan tidur. Rizky memejamkan mata untuk selamanya. Menyaksikan hal itu, Vina langsung meneteskan air matanya. Yunita yang sedari tadi berdiri disamping Vina bergegas memanggil kedua orang tua Rizky. Sekejap ruangan itu berubah menjadi lautan air mata.
“Rizky, kamu jangan pergi… kamu enggak boleh pergi” Vina menangis tersedu.
“Sudahlah, Vin! Kita relakan saja kepergiannya” Yunita merangkul pundak Vina.
Pemandangan itu membuat seisi ruangan makin terenyuh. Vina benar-benar terpukul dengan kepergian Rizky. Dia tidak mengira jika Rizky akan pergi meninggalkannya secepat ini. Kini dia hanya bisa pasrah menerima kenyataan ini. Dia harus merelakan kepergian Rizky.
****
KOMUNIKASI ORGANISASI
Komunikasi (communicare, latin) artinya berbicara atau menyampaikan pesan, informasi, pikiran, perasaan yang dilakukan seseorang kepada yang lain dengan mengharapkan jawaban, tanggapan, dari orang lain (Hohenberg : 1978).
Komunikasi bermula dari sebuah gagasan yang ada pada diri seseorang yang diolah menjadi sebuah pesan dan disampaikan atau dikirimkan kepada orang lain dengan menggunakan media tertentu. Dari pesan yang disampaikan tersebut kemudian terdapat timbale balik berupa tanggapan atau jawaban dari orang yang menerima pesan tersebut.
Dari proses terjadinya komunikasi itu, secara teknis pelaksanaan, komunikasi dapat dirumuskan sebagai kegiatan dimana seseorang menyampaikan pesan melalui media tertentu kepada orang lain dan sesudah menerima pesan serta memahami sejauh kemampuannya, penerima pesan menyampaikan tanggapan melalui media tertentu pula kepada orang yang menyampaikan pesan itu kepadanya (Agus M. Hardjana :Komunikasi intrapersonal dan interpersonal, 2003).
Komunikasi dan organisasi
Dalam sebuah organisasi, komunikasi merupakan sebuah tuntutan yang paling utama untuk menjaga keutuhan organisasi. Hal inilah yang membedakan organisasi dari sekumpulan orang lainnya.
Adapun ciri-ciri khusus didalam organisasi yang menuntut adanya komunikasi yang efektif antara lain :
1. Visi/tujuan
2. Sasaran
3. Pembagian tugas/struktur, didalam organisasi membentuk struktur dan hierarki yang melahirkan koordinasi
4. Sistem, konsepnya merujuk kepada hubungan antara atasan dan bawahan. Sifat hubungannya saling mempengaruhi/interdependensi.
Fungsi komunikasi dalam organisasi
Dalam organisasi, komunikasi berfungsi untuk :
1. Pengaturan dan operasi, yakni untuk kepentingan penyelesaian pekerjaan dan membereskan tugas demi pencapaian tujuan.
2. Inovasi/pembaharuan, untuk kepentingan pembaharuan dan pengubahan tata kerja demi penyesuaian, kelangsungan hidup, dan pengembangan organisasi di tengah lingkungan yang terus berubah.
3. Sosialisasi atau pembinaan, yakni berkaitan dengan anggota sebagai manusia. Khusus dalam upaya motivasi, pengimbalan, dan moral kerja. Sosialisasi berdampak kepada :
a. Harga diri anggota
b. Hubungan interpersonal dalam organisasi
c. Motivasi ; integrasi kepentingan pribadi ke dalam kepentingan organisasi
Efektifitas komunikasi dalam organisasi
Sebuah komunikasi dalam organisasi akan efektif apabila :
1. Saluran komunikasi diketahui dengan pasti.
2. Kita dapat mengatakan tahu kepada siapa harus melapor atau kepada siapa menyampaikan informasi dan dapat menerima informasi dari siapa.
3. Lini komunikasi yang lengkap biasanya harus dipergunakan.
4. Komunikasi itu akan terjadi sependek mungkin tanpa melalui jenjang.
5. Selama komunikasi berlangsung tidak boleh ada interupsi/pemutusan hubungan.
6. Semua yang menjadi apa yang disebut pusat komunikasi/unit komunikasi harus memiliki kompetensi.
7. Setiap komunikasi harus ada outentifikasi/pengesahan.
Komunikasi bermula dari sebuah gagasan yang ada pada diri seseorang yang diolah menjadi sebuah pesan dan disampaikan atau dikirimkan kepada orang lain dengan menggunakan media tertentu. Dari pesan yang disampaikan tersebut kemudian terdapat timbale balik berupa tanggapan atau jawaban dari orang yang menerima pesan tersebut.
Dari proses terjadinya komunikasi itu, secara teknis pelaksanaan, komunikasi dapat dirumuskan sebagai kegiatan dimana seseorang menyampaikan pesan melalui media tertentu kepada orang lain dan sesudah menerima pesan serta memahami sejauh kemampuannya, penerima pesan menyampaikan tanggapan melalui media tertentu pula kepada orang yang menyampaikan pesan itu kepadanya (Agus M. Hardjana :Komunikasi intrapersonal dan interpersonal, 2003).
Komunikasi dan organisasi
Dalam sebuah organisasi, komunikasi merupakan sebuah tuntutan yang paling utama untuk menjaga keutuhan organisasi. Hal inilah yang membedakan organisasi dari sekumpulan orang lainnya.
Adapun ciri-ciri khusus didalam organisasi yang menuntut adanya komunikasi yang efektif antara lain :
1. Visi/tujuan
2. Sasaran
3. Pembagian tugas/struktur, didalam organisasi membentuk struktur dan hierarki yang melahirkan koordinasi
4. Sistem, konsepnya merujuk kepada hubungan antara atasan dan bawahan. Sifat hubungannya saling mempengaruhi/interdependensi.
Fungsi komunikasi dalam organisasi
Dalam organisasi, komunikasi berfungsi untuk :
1. Pengaturan dan operasi, yakni untuk kepentingan penyelesaian pekerjaan dan membereskan tugas demi pencapaian tujuan.
2. Inovasi/pembaharuan, untuk kepentingan pembaharuan dan pengubahan tata kerja demi penyesuaian, kelangsungan hidup, dan pengembangan organisasi di tengah lingkungan yang terus berubah.
3. Sosialisasi atau pembinaan, yakni berkaitan dengan anggota sebagai manusia. Khusus dalam upaya motivasi, pengimbalan, dan moral kerja. Sosialisasi berdampak kepada :
a. Harga diri anggota
b. Hubungan interpersonal dalam organisasi
c. Motivasi ; integrasi kepentingan pribadi ke dalam kepentingan organisasi
Efektifitas komunikasi dalam organisasi
Sebuah komunikasi dalam organisasi akan efektif apabila :
1. Saluran komunikasi diketahui dengan pasti.
2. Kita dapat mengatakan tahu kepada siapa harus melapor atau kepada siapa menyampaikan informasi dan dapat menerima informasi dari siapa.
3. Lini komunikasi yang lengkap biasanya harus dipergunakan.
4. Komunikasi itu akan terjadi sependek mungkin tanpa melalui jenjang.
5. Selama komunikasi berlangsung tidak boleh ada interupsi/pemutusan hubungan.
6. Semua yang menjadi apa yang disebut pusat komunikasi/unit komunikasi harus memiliki kompetensi.
7. Setiap komunikasi harus ada outentifikasi/pengesahan.
MANAJEMEN KONFLIK
OLEH : RACHMAT NUGRAHA
Konflik adalah proses yang muncul apabila seseorang/kelompok beranggapan bahwa pihak lain telah atau akan membuyarkan tujuan atau kepentingan yang dia/kelompok itu miliki. Atau dapat dikatakan pula bahwa konflik adalah hubungan-hubungan yang mengandung potensi pengaruh yang tidak cocok.
Konflik bukanlah sesuatu yang perlu di hindari karena kehadirannya dalam organisasi adalah yang biasa terjadi dan bukanlah suatu hal yang tabu. Untuk itu yang diperlukan sebenarnya adalah bagaimana mengorganisir konflik tersebut, sehingga solusi yang diambil dapat dijadikan titik pijak bagi kemajuan organisasi .
Adapun jenis-jenis konflik antara lain :
Kognitif : selisih paham, salah pengertian, bertentangan pandangan.
Afektif : beda sikap, beda pendirian.
Perilaku : tindakan menyakitkan, tak patut.
Tujuan : berebut kekuasaan, kepentingan sendiri.
Jenjang-jenjang konflik :
Intra pribadi--- Antar pribadi ---Intra kelompok---- Antar kelompok ---Intra organisasi ---Antar organisasi
Mengorganisir konflik
Dalam organisasi, biasanya konflik berlokasi pada :
- Komunikasi. Bentuk-bentuk komunikasi dalam organisasi cukup ambil bagian dalam menciptakan suasana konflik, seperti penggunaan bahasa, dll,
- Perselisihan antar individu dalam organisasi,
- Peraturan yang ketat, dan
- Faktor-faktor yang berasal dari luar organisasi.
Secara umum konflik dapat disebabkan oleh dua hal. Pertama, oleh sebab-sebab bersifat permukaan, sepele, dan emosional. Pada umumnya konflik ini mudah diselesaikan dan tidak memakan waktu yang lama. Kedua, oleh sebab yang mendasar, konflik ini sangat sulit atau bahkan tidak mungkin dapat bisa diselesaikan karena biasanya konflik ini sudah menyangkut mengenai tujuan (seperti arah yang ingin dituju, dan pandangan-pandangan dasar mengapa tujuan tersebut ingin dicapai) dan sistem organisasi.
Pada umumnya konflik tidak dapat diselesaikan secara baik dan bahkan cenderung menjadi picu kehancuran. Hal ini yang mungkin menjadikan konflik cenderung dianggap negatif. Kiranya perlu dikembangkan tradisi baru dalam menyelesaikan konflik. Pendekatan negosiasi atau atau digunakannya cara-cara negosiasi untuk mengatasi konflik akan sangat berguna.
Dalam rangka pengembangan organisasi, maka diperlukan langkah-langkah antisipatif, cepat, dan bertahap untuk menyelesaikan konflik.
Pertama, temukan akar persoalan. Hal ini dapat dilakukan dengan menceburkan diri dalam konflik yang sedang berlangsung dengan tujuan untuk mengetahui sumber konflik.
Kedua, buatlah jarak antara yang berkonflik. Cara ini merupakan metode klasik dalam permainan anak-anak; ketika ada persoalan, maka memisahkan mereka merupakan langkah penting untuk mengakhiri konflik.
Ketiga, menggali masalah lebih dalam dari masing-masing pihak yang berkonflik. Bila anda mengambil peran sebagai penengah, maka anda perlu menyingkap lebih dalam masalah yang sedang timbul.
Keempat, membeberkan duduk persoalan yang sebenarnya kepada masing-masing pihak. Bila masalah komunikasi yang menjadi pangkal persoalan, maka pembeberan akan sangat membantu.
Kelima, menegosiasikan/memusyawarahkan. Setelah semua aspek diketahui, maka negosiasi merupakan jalan yang harus ditempuh. Dalam proses negosiasi dibahas mengenai yang bisa diselesaikan dan mana yang tidak.
Penyelesaian konflik harus mengacu kepada usaha untuk memajukan dan bukan memenangkan satu pihak serta mengalahkan pihak yang lain. Dengan demikian organisasi tidak akan mengalami kemunduran atau bahkan kehancuran.
Membangkitkan konflik
Dalam sebuah organisasi, terkadang konflik harus sengaja dibangkitkan dengan tujuan membuat kehidupan organisasi menjadi lebih dinamis dan demi kematangan organisasi. Adapun cara-cara efektif membangkitkan konflik, antara lain :
1.Mengaku memendam konflik.
2.Secara terbuka menunjukkan contoh konflik melalui beda pendapat dan tanggapan bersama.
3.Menahan informasi.
4.Sengaja menyampaikan pesan/informasi kabur.
5.Menantang struktur kekuasaan yang ada.
Dengan menciptakan konflik, bukan berarti meretakkan keutuhan organisasi. Konflik yang tercipta sangat bermanfaat untuk,
1.Memupuk perubahan dan kreativitas dalam menjajagi peluang-peluang baru.
2.Meningkatkan komunikasi dan kinerja organisasi.
3.Menciptakan keseimbangan kekuatan dan pengaruh melalui kerjasama dalam teknik-teknik pemecahan masalah
Teknik-teknik stimulasi konflik
I. Komunikasi
Komunikasi top down : menyimpang dari saluran normal, formal, maupun informal.
Menahan dan menyembunyikan informasi.
Membanjiri informasi sehingga terjadi overload.
Informasi kabur atau mengancam.
II. Struktur
Besaran organisasi dan jenjang-jenjang baru.
Kualitas pengurus
Gaya kepemimpinan
Pergantian jabatan
III. Faktor-faktor personal perilaku
Mempengaruhi perilaku atau pengaruh hubungan.
Mengubah persyaratan untuk peran segenap anggota.
Menciptakan status yang tidak sesuai.
Memisah-misahkan tujuan sub unit.
Konflik adalah proses yang muncul apabila seseorang/kelompok beranggapan bahwa pihak lain telah atau akan membuyarkan tujuan atau kepentingan yang dia/kelompok itu miliki. Atau dapat dikatakan pula bahwa konflik adalah hubungan-hubungan yang mengandung potensi pengaruh yang tidak cocok.
Konflik bukanlah sesuatu yang perlu di hindari karena kehadirannya dalam organisasi adalah yang biasa terjadi dan bukanlah suatu hal yang tabu. Untuk itu yang diperlukan sebenarnya adalah bagaimana mengorganisir konflik tersebut, sehingga solusi yang diambil dapat dijadikan titik pijak bagi kemajuan organisasi .
Adapun jenis-jenis konflik antara lain :
Kognitif : selisih paham, salah pengertian, bertentangan pandangan.
Afektif : beda sikap, beda pendirian.
Perilaku : tindakan menyakitkan, tak patut.
Tujuan : berebut kekuasaan, kepentingan sendiri.
Jenjang-jenjang konflik :
Intra pribadi--- Antar pribadi ---Intra kelompok---- Antar kelompok ---Intra organisasi ---Antar organisasi
Mengorganisir konflik
Dalam organisasi, biasanya konflik berlokasi pada :
- Komunikasi. Bentuk-bentuk komunikasi dalam organisasi cukup ambil bagian dalam menciptakan suasana konflik, seperti penggunaan bahasa, dll,
- Perselisihan antar individu dalam organisasi,
- Peraturan yang ketat, dan
- Faktor-faktor yang berasal dari luar organisasi.
Secara umum konflik dapat disebabkan oleh dua hal. Pertama, oleh sebab-sebab bersifat permukaan, sepele, dan emosional. Pada umumnya konflik ini mudah diselesaikan dan tidak memakan waktu yang lama. Kedua, oleh sebab yang mendasar, konflik ini sangat sulit atau bahkan tidak mungkin dapat bisa diselesaikan karena biasanya konflik ini sudah menyangkut mengenai tujuan (seperti arah yang ingin dituju, dan pandangan-pandangan dasar mengapa tujuan tersebut ingin dicapai) dan sistem organisasi.
Pada umumnya konflik tidak dapat diselesaikan secara baik dan bahkan cenderung menjadi picu kehancuran. Hal ini yang mungkin menjadikan konflik cenderung dianggap negatif. Kiranya perlu dikembangkan tradisi baru dalam menyelesaikan konflik. Pendekatan negosiasi atau atau digunakannya cara-cara negosiasi untuk mengatasi konflik akan sangat berguna.
Dalam rangka pengembangan organisasi, maka diperlukan langkah-langkah antisipatif, cepat, dan bertahap untuk menyelesaikan konflik.
Pertama, temukan akar persoalan. Hal ini dapat dilakukan dengan menceburkan diri dalam konflik yang sedang berlangsung dengan tujuan untuk mengetahui sumber konflik.
Kedua, buatlah jarak antara yang berkonflik. Cara ini merupakan metode klasik dalam permainan anak-anak; ketika ada persoalan, maka memisahkan mereka merupakan langkah penting untuk mengakhiri konflik.
Ketiga, menggali masalah lebih dalam dari masing-masing pihak yang berkonflik. Bila anda mengambil peran sebagai penengah, maka anda perlu menyingkap lebih dalam masalah yang sedang timbul.
Keempat, membeberkan duduk persoalan yang sebenarnya kepada masing-masing pihak. Bila masalah komunikasi yang menjadi pangkal persoalan, maka pembeberan akan sangat membantu.
Kelima, menegosiasikan/memusyawarahkan. Setelah semua aspek diketahui, maka negosiasi merupakan jalan yang harus ditempuh. Dalam proses negosiasi dibahas mengenai yang bisa diselesaikan dan mana yang tidak.
Penyelesaian konflik harus mengacu kepada usaha untuk memajukan dan bukan memenangkan satu pihak serta mengalahkan pihak yang lain. Dengan demikian organisasi tidak akan mengalami kemunduran atau bahkan kehancuran.
Membangkitkan konflik
Dalam sebuah organisasi, terkadang konflik harus sengaja dibangkitkan dengan tujuan membuat kehidupan organisasi menjadi lebih dinamis dan demi kematangan organisasi. Adapun cara-cara efektif membangkitkan konflik, antara lain :
1.Mengaku memendam konflik.
2.Secara terbuka menunjukkan contoh konflik melalui beda pendapat dan tanggapan bersama.
3.Menahan informasi.
4.Sengaja menyampaikan pesan/informasi kabur.
5.Menantang struktur kekuasaan yang ada.
Dengan menciptakan konflik, bukan berarti meretakkan keutuhan organisasi. Konflik yang tercipta sangat bermanfaat untuk,
1.Memupuk perubahan dan kreativitas dalam menjajagi peluang-peluang baru.
2.Meningkatkan komunikasi dan kinerja organisasi.
3.Menciptakan keseimbangan kekuatan dan pengaruh melalui kerjasama dalam teknik-teknik pemecahan masalah
Teknik-teknik stimulasi konflik
I. Komunikasi
Komunikasi top down : menyimpang dari saluran normal, formal, maupun informal.
Menahan dan menyembunyikan informasi.
Membanjiri informasi sehingga terjadi overload.
Informasi kabur atau mengancam.
II. Struktur
Besaran organisasi dan jenjang-jenjang baru.
Kualitas pengurus
Gaya kepemimpinan
Pergantian jabatan
III. Faktor-faktor personal perilaku
Mempengaruhi perilaku atau pengaruh hubungan.
Mengubah persyaratan untuk peran segenap anggota.
Menciptakan status yang tidak sesuai.
Memisah-misahkan tujuan sub unit.
Langganan:
Postingan (Atom)