Jumat, 10 Oktober 2008
Sebulan Kerja Di Rakyat Merdeka
Namun, begitu coba kupelajari dan terus berusaha mengikuti ritme kerjanya, akhirnya kini aku sudah mulai merasa nyaman dengan pekerjaanku. Semakin mantaplah aku menggeluti dunia jurnalistik.
Kini, aku bertugas di rubrik Bongkar di halaman empat. Cukup pusing memang jika tidak ada isu yang bisa diangkat, tapi nikmati aja. Toh, aku jadi semakin terasah dalam menggali isu. Dan yang pasti, wawasanku semakin bertambah berkat seringnya diskusi dengan para narasumber.
Sepertinya aku memang harus berterima kasih kepada Bang Aulia Andri yang kini sukses jadi dosen di Unimed dan Umsu yang telah mengenalkanku pada dunia tulis menulis. Kepada bang Emil, sang penulis novel Berdjuta-djuta Dari Deli, Hikajat Koeli Contract yang telah banyak memberikan motivasi padaku hingga akhirnya aku bisa melahirkan empat judul novel. Kepada Mbak Susaningtyas Kertopati mantan Anggota DPR-RI FPDIP yang memacu semangatku untuk selalu menjadi yang lebih baik. Tanpa kalian, aku bukanlah apa-apa.
Sepeda Solusi Kemacetan di Jakarta
Pekerja Bersepeda Minta Jalur Sendiri
Jakarta, RM. Sepeda merupakan salah satu alternatif alat transportasi yang paling mungkin untuk menghemat energi karena kendaraan tak bermotor ini tidak membutuhkan bahan bakar minyak (BBM). Karenanya sepeda tidak akan menghasilkan polusi udara alias ramah lingkungan. Selain itu, jika pengguna sepeda semakin banyak tidak menutup kemungkinan masalah kemacetan yang selama ini menggelayuti kota Jakarta akan terpecahkan.
Dhimen Ibnu Purmanto, seorang staf di sebuah perguruan tinggi swasta di bilangan Jakarta Selatan mengatakan, dirinya sudah sangat jenuh dengan kemacetan yang begitu parah di Jakarta. Alasan itulah yang membuat dia memilih sepeda untuk mengantarnya ke tempat kerja. “Belum lagi polusi dari kendaraan, bikin sesak napas,” cetus anggota Bike To Work Indonesia itu kemarin.
Menurut pria yang pernah melakukan ekspedisi bersepeda ke Jawa-Bali-Lombok selama 21 hari itu, dirinya berharap pihak pemerintah segera membuatkan jalur khusus bagi para pengguna sepeda. Selain itu, dia meminta untuk disediakan lahan parkir khusus di pusat perbelanjaan dan perkantoran. “Selama ini masih jarang banget kantor yang nyediain parkir khusus sepeda, apalagi mal,” katanya.
Hal senada diungkapkan Arif, karyawan sebuah perusahaan di kawasan Sudirman. Menurutnya, masyarakat masih banyak yang enggan bersepeda karena keselamatan mereka belum terjamin. Karena itu, dia menilai political will dari pemerintah sangat dibutuhkan guna mengakomodir para pengguna sepeda. “Sekarang tinggal dari pemerintahnya, mau enggak bikinin kita jalur sepeda,” tuturnya.
Namun, keinginan Dhimen dan Arif, serta komunitas Bike To Work Indonesia lain rupanya masih harus jadi angan-angan. Pasalnya, Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta belum bisa mewujudkan permintaan para pekerja bersepeda itu. Hal itu disebabkan kekhawatiran jumlah pengendara sepeda di Jakarta yang masih relatif sedikit mengakibatkan jalur sepeda menjadi mubajir.
Ketua Umum Bike To Work Indonesia Toto Sugito mengungkapkan, sejauh ini Pemda DKI Jakarta sudah sangat mendukung sesuai dengan kondisi dan kapasitasnya. Dia bisa mengerti jika pemda belum dapat merealisasikan keinginan komunitasnya. Tapi, pihaknya akan terus menjalin diskusi secara intens dengan pemda. “Ini cuma masalah skala prioritas saja,” ucapnya saat dihubungi rakyat merdeka kemarin.
Toto berharap, bike to work dapat jadi gaya hidup baru bagi warga kota di seluruh Indonesia. Untuk itu, pihaknya akan terus melakukan kampanye dan sosialisasi kepada semua lapisan masyarakat. Jika nantinya sepeda telah menjadi pilihan, maka pengadaan jalur sepeda menjadi keharusan. (RN)
Senin, 06 Oktober 2008
Aktivis 98 Rame-rame Jadi Caleg
Aktivis 98 Rame-rame Jadi Caleg
Rakyat Sudah Muak Dengan Politisi Tua
Jakarta, RM- Merasa sudah siap, kalangan aktivis 98 berduyun-duyun menjadi calon anggota legislatif (caleg). Mereka terdaftar di berbagai partai politik (parpol). Hal itu dilakukan karena generasi penumbang orde baru itu merasa selama ini tidak ada perubahan yang signifikan. Ditambah lagi dengan perilaku buruk para wakil rakyat yang mengakibatkan hilangnya kewibawaan DPR sebagai lembaga negara. “Rakyat sudah muak dengan mereka,” tutur Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti.
Ray mengakui, para politisi yang kini duduk di parlemen sudah tidak bisa diharapkan lagi. Kalaupun pada Pemilu 2004 lalu banyak dari mereka yang kembali terpilih, itu lebih disebabkan unsur keterpaksaan. "Hanya karena tidak ada pilihan saja," tegasnya.
Menurutnya, keberanian aktivis 98 yang maju sebagai caleg pada Pemilu 2009 harus disambut positif. Kehadiran mereka diharapkan mampu memperjuangkan enam visi reformasi yang telah digelontorkan 10 tahun lalu.Dirinya optimis generasi 98 mampu melakukan perubahan besar dalam parlemen. Terlebih, mereka memiliki kemampuan politik yang cukup dan telah teruji melakukan kerja-kerja politik. Dia yakin para pemuda itu mampu bertarung di senayan.
Ray mengingatkan para aktivis 98 untuk tidak main-main karena mereka akan berhadapan dengan dirinya dan aktivis lainnya. “Jangan sekali-kali korupsi,” ucapnya.
Di tempat terpisah, mantan aktivis 98 yang kini jadi caleg DPR-RI dari PKB Daerah Pemilihan (Dapil) Jatim I Iwan Dwi Laksono mengatakan, dirinya maju disebabkan ketidakpuasan atas kondisi yang terjadi saat ini. Dia melihat, kesejahteraan rakyat semakin jauh dari harapan.”Saya ingin melakukan perubahan dengan mengkombinasikan taktik parlementer dengan ekstra parlementer,” ujarnya.
Dia menilai, lembaga negara, khususnya parlemen saat ini semakin rusak. Satu-satunya jalan untuk melakukan perbaikan, maka dirinya harus masuk ke dalam sistem. Dengan begitu ada kemungkinan besar baginya untuk mendesak agenda perubahan melalui legislatif. Dirinya akan berupaya untuk merubah kebijakan agar lebih berpihak kepada rakyat.
“Khususnya yang berkaitan dengan undang-undang, karena DPR itu kan tugasnya legislasi,” ungkap mantan Ketua Umum LMND itu.
Hal senada dikatakan Petrus Kanisius Tino Rahardian, mantan aktivis 98 yang kini jadi caleg DPR-RI dari Partai Gerindra. Dia menuturkan, dirinya dan generasi 98 lainnya memiliki keresahan yang sama terhadap kondisi rakyat yang tidak kunjung membaik. Selain itu, dia menilai lembaga negara kian dirusak dan dicederai oleh para oknum politisi dengan perilakunya yang amoral dan tidak mendidik.
“Lihat saja kasus Max Moein, Yahya Zaini, banyak hal itu. Entah yang korupsi dan liar yang akhirnya merusak kewibawaan lembaga itu (DPR),” tegas Tino, panggilan akrab Petrus.
Kapital Sosial
Tino yang mendapat nomor urut dua mengatakan, modal yang dimilikinya untuk menjadi caleg adalah kapital sosial. Dirinya tidak punya kemampuan secara finansial. Karena itu, dia hanya akan mengoptimalkan jaringan dan basis massa yang telah terbangun dan berusaha meyakinkan rakyat dengan program yang konkret. “Mereka siap untuk jadi relawan,” kata caleg dari Dapil Jatim V itu.
Tak jauh beda dengan Tino, Iwan pun cuma memiliki modal berupa kantong-kantong massa yang telah dibina selama ini dan pengalamannya sebagai aktivis gerakan mahasiswa. Dia mengaku belum mendapatkan bantuan dana dari partai untuk kegiatan kampanye. “Saya banyak dibantu oleh rekan-rekan yang mendukung saya dalam segala kebutuhan kampanye,” tuturnya.
Baik Tino maupun Iwan yakin, dengan apa yang telah mereka lakukan selama ini legitimasi rakyat bisa didapatkan. Keduanya tidak menolak bila mereka harus membuat kontrak sosial. Bahkan, Iwan secara gamblang menyatakan siap mundur jika dirinya terbukti gagal memperjuangkan agenda reformasi. (RN)
DJ Pat, Ikon DJ Wanita di Indonesia
DJ Pat, Ikon DJ Wanita di Indonesia
Written By Rachmat Nugraha
Patricia Hadi adalah nama lengkapnya. Ia populer dengan panggilan DJ Pat dan merupakan salah satu ikon DJ wanita di Indonesia. Kesuksesannya sebagai seorang Disc Jockey wanita sekarang membuat dirinya sangat terkenal di kalangan clubbers di tanah air. DJ Pat mulai menapaki karirnya di dunia hiburan pada tahun 2002. Kala itu, ia ditawari main dalam sebuah acara yang diadakan di Medan oleh kawannya. Sejak itu, publik mengenalnya sebagai DJ Pat.
“Awalnya tertarik waktu aku masih sekolah di luar negeri. Kebetulan waktu itu teman sekamarku seorang DJ, jadi aku suka iseng mainin alatnya. Begitu pulang ke Jakarta sekitar tahun 2001 aku baru mulai belajar serius, dan tahun 2002 akhirnya aku memantapkan diri sebagai seorang DJ. Menurutku keren aja jadi DJ karena bisa ngontrol crowd,” tuturnya kepada Halo Jakarta.
Bintang wanita berparas cantik ini pun semakin bersinar saat bergabung dengan Spinach, sebuah manajemen DJ yang dikelola oleh DJ Riri. Kini ia pun dianggap sebagai salah satu pelopor hadirnya DJ wanita di Indonesia. Namun, ia membantah. Menurutnya, jauh sebelum ia sudah ada DJ wanita yang lebih dulu hadir. Hanya saja saat itu masih sedikit yang terangkat ke permukaan.
"Aku tidak mau disebut-sebut sebagai pelopor DJ wanita, soalnya sebelum aku sudah ada kok," tegasnya.
Menekuni pekerjaan sebagai DJ yang sangat dekat dengan kehidupan malam baginya bukan tanpa masalah. Awalnya seringkali muncul tanggapan miring dari sebagian kalangan. Ditambah lagi dengan stigma yang beranggapan kalau DJ wanita hanya mengandalkan fisik belaka.
“Aku selalu berusaha membuktikan kalau aku punya skill dan akhirnya mereka semua bisa mengakui kemampuanku,” kata wanita berbintang Capricorn itu.
Bagi DJ yang baru menginjak usia 24 tahun ini, para DJ wanita juga memiliki kemampuan yang tak kalah baik dalam meramu musik elektrik yang bisa menggerakkan crowd untuk terus menghidupkan party.
Ia kini bisa berbangga hati. Kemampuannya sebagai seorang DJ telah memberikan atmosfir tersendiri bagi para clubbers. Apalagi jika menyaksikan DJ Pat beraksi di balik turn table.
Pindah Genre
Keinginannya untuk berganti genre bukan tanpa alasan. Menurutnya, R&B yang selama ini sangat kental mempengaruhi permainannya sudah mulai tidak laku lagi di kalangan clubbers. Saat ini yang tengah digandrungi oleh para penikmat musik malam adalah electro dan house.
“Tadinya aku pikir aku bisa bertahan dengan idealismeku, tapi ternyata kini R&B sudah tidak digemari lagi. Jadi, sekarang aku lagi coba pindah ke electro,” cetusnya.
DJ yang sangat mengagumi DJ Riri ini menambahkan, Sebenarnya ia bukan DJ yang identik dengan satu genre musik saja. Saat pertama kali, ia sempat memainkan jenis progresive dan house. Tapi karena banyak permintaan untuknya bermain R&B, ia pun konsisten untuk menjadikan R&B sebagai genre musik pilihannya.
Wanita yang selalu low profile ini mengaku, ia merasa semakin sulit bertahan dengan R&B. Bahkan, job-job pun kian berkurang. “Dulu biasanya aku main 2 sampai 3 kali dalam seminggu, sekarang sebulan paling cuma 2 kali,” keluhnya.
Walau demikian, dirinya tidak berarti menjauh dari genre musik yang sudah identik dengan dirinya itu. Karena menurutnya, beat-beat dari R&B sangat enak. Ia mengaku sangat menikmati permainannya selama ini. (ditulis untuk edisi perdana Halo Jakarta)
Bricks Kitchen and Lounge
Sensasion of Taste
Rachmat Nugraha
Siang itu, Bricks Kitchen and Lounge yang berlokasi di Plaza Semanggi lantai 10 masih sepi pengunjung. Hanya beberapa meja yang diduduki pengunjung, sementara lainnya masih kosong. Feri dan Muchtar Alamsyah, pengelola lounge menyambut kedatangan kami dengan ramah.
Sangat unik, itulah kesan pertama yang muncul ketika memasuki area lounge. Dindingnya terbuat dari batu bata yang dibiarkan alami tanpa plesteran dengan motif yang berbeda di setiap dindingnya. Saat mata memandang ke atas, terlihat bola-bola lampu menghiasi langit-langit ruangan dipadu dengan kain berwarna merah muda semakin menambah cantik ruangan. Tak hanya itu, dapur yang menyatu dengan ruangan membuat kami dapat melihat langsung para koki beraksi menyiapkan hidangan untuk pengunjung. Konsep ini dipilih memang bukan tanpa alasan. Selain menyesuaikan dengan namanya, konsep ini dipilih juga untuk memberikan kesan alami dan unik.
"Biar terkesan natural dan menarik", kata Chef Tatang, panggilan akrab Muchtar Alamsyah.
Nuansa alami memang terasa kental dalam setiap sudut ruangan. Selain itu, deretan meja kecil dan sofa membuat suasana lebih nyaman, tenang, dan terasa layaknya di rumah sendiri.
Dalam hidangan makanan dan minuman, Bricks Kitchen and Lounge juga menawarkan banyak pilihan khas dari Intercontinental hingga Asia. Mulai dari Deep Fried Cheese Salad yang sangat cocok untuk dijadikan sebagai appetizer, Double Beef Medallion yang bentuknya mirip dengan medali dan dijamin mengundang selera, Three Chicken Wing, pizza, hingga nasi bakar dan sate kambing muda khas Bricks yang merupakan menu favorit di lounge yang launching pada 14 Februari lalu itu. Untuk minuman, menu yang tersedia antara lain Bricks Smoothies, Rock Roll, Mi Cara Es Su Cana, dan Bricks Flamin.
Beruntung kami mendapatkan kesempatan mencicipi sate kambing muda khas Bricks. Sekilas, tak ada yang istimewa dari makanan itu. Yang membedakan hanyalah tungku berisi bara arang yang digunakan sebagai wadah sate untuk menjaga agar sate tetap panas. Keistimewaannya baru terasa ketika kami menyantapnya. Daging kambing terasa begitu empuk dan lembut di mulut. Benar-benar menggoyang lidah. Awalnya kami mengira daging kambing direndam dengan nanas muda atau daun pepaya agar empuk. Tapi, ternyata tidak. Menurut Chef Tatang, kambing yang sudah dipotong hanya digantung untuk melemaskan otot-otot yang tegang pada saat pemotongan dan sedikit ramuan bumbu, sehingga daging kambing akan empuk dengan sendirinya.
"Cara ini sudah banyak digunakan di restorant-restoran di luar negeri" tuturnya.
Untuk anda yang suka menyantap sate dengan saus bumbu kacang, jangan khawatir. Walau sate kambing di Bricks hanya dihidangkan dengan saus bumbu kecap, tapi mereka akan dengan senang hati memenuhi keinginan anda.
Usai menikmati sate kambing yang khas dari Bricks, kami lalu mencoba Bricks Smoothies, minuman favorit pengunjung. Rasanya sangat beda dan menyegarkan. Sensasi rasa sontak muncul saat kita mulai meneguknya. Pantas saja jika minuman hasil paduan dari jus mangga, orange, dan strawberry dengan campuran ice cream vanilla dan yoghurt itu menjadi pilihan hampir setiap pengunjung yang datang.
Bagi anda yang suka minuman beralkohol, anda dapat mencoba sensasi dari Mi Cara Es Su Cana yang dibuat dari campuran vodka, gin, tequila, dan tujuh macam alkohol. Atau Bricks Flamin yang terbuat dari rum, vodka, triple sec, blue curacao, dan cambuco. Dijamin, anda akan mendapatkan sedikit tendangan ketika meminumnya.
Jika anda ingin merasakan suasana natural dan unik, anda bisa datang ke lounge yang buka dari pukul 10.00 hingga 12.00 untuk weekdays dan pukul 10.00 hingga 02.00 dini hari saat weekend ini. Bricks Kitchen and Lounge yang memadukan suasana yang unik dan natural dengan hidangan lezat memang cocok dijadikan pilihan untuk makan, hang out, dan meeting. (ditulis untuk edisi perdana Halo Jakarta)
Meraih Kenikmatan Lewat Cigar
Meraih Kenikmatan Lewat Cigar
Written by Rachmat Nugraha
Aroma yang sangat khas begitu terasa saat memasuki ruangan di salah satu sudut Hotel Shangri-la, Jakarta. Benar-benar menyengat hidung. Dan yang pasti, ini bukanlah aroma dari rokok biasa. Bau khas ini berasal dari cerutu atau biasa disebut cigar, yang memiliki ukuran dan warna yang sangat berbeda dari rokok pada umumnya. Maklum saja, ruangan itu merupakan tempat berkumpulnya para penggemar cigar di Jakarta. Sebagian orang menyalurkan hobi untuk melepas kepenatan dengan menghisap cigar di tempat itu. Hobi ini seakan selalu jadi pilihan utama untuk mengisi waktu luang bagi mereka. ”Nyigar itu nikmat,” ucap mereka. Rasa nikmat itu semakin terasa ketika melakukannya sambil santai bersama orang-orang yang memiliki hobi sejenis dalam satu komunitas.
Cigar memang memiliki nilai tersendiri. Menghisap cigar terlihat sangat berkelas dibanding menghisap rokok biasa. Harganya pun cukup mahal, membuat tidak sembarang orang dapat menghisap cigar.
“Harga per batang paling murah 40 ribu untuk jenis macanudo cafĂ© uscott hingga 550 ribu untuk jenis Cuaba Diademas,” tutur Imran, manajer Club Macanudo Cigar Divan.
Menurut manajer klub yang menerapkan sistem member ini, cerutu ada 3 jenis yakni ringan, medium dan keras. Untuk para pemula biasanya mereka memilih yang ringan atau medium, setelah terbiasa barulah mereka memilih yang keras.
Cerutu itu sendiri terdiri dari filler, binder dan wrapper, di mana setiap bagiannya sangat berpengaruh terhadap kualitas cerutu itu sendiri. Cerutu yang berkualitas sudah barang tentu terdiri dari bahan-bahan yang bagus, seperti pembungkus dan daun tembakau yang sangat bagus. Begitu pun proses pembungkusan, cerutu yang dibungkus dengan bantuan mesin biasanya memiliki cita rasa yang kalah baik dibandingkan yang handmade.
Hingga saat ini, cerutu buatan Kuba masih menempati peringkat nomor 1 dari segi kualitas dan cita rasa, disusul cerutu buatan Republik Dominika. Meski begitu, cerutu Indonesia ternyata juga menjadi salah satu cigar yang popular di Eropa dan Amerika dengan handmade cigarnya yang bertitle Montague yang kini telah menjadi cerutu langka, karena telah berhenti diproduksi pada tahun 2000.
Menikmati Cigar
Cigar terkenal dengan baunya yang bisa membuat pusing kepala bagi mereka yang kurang suka. Karena itu, biasanya para penggemar cigar selalu mencari tempat yang nyaman untuk menikmati cigar dan tidak mengganggu orang lain.
Di Jakarta sendiri, saat ini sudah mulai menjamur klub-klub cerutu yang siap memanjakan para penggemar cigar, salah satunya adalah Club Macanudo Cigar Divan yang terletak di lantai dasar Hotel Shangri-la. Klub ini, selain menjadi tempat kongkow-kongkow para penggemar cerutu, juga sebagai distributor untuk hotel-hotel bintang lima yang menyediakan cigar lounge. Di samping itu, klub yang berdiri sejak tahun 2001 ini juga menyediakan accessories dan perlengkapan cigar yang sangat lengkap.
"Macanudo Cigar Divan didirikan untuk mengakomodir para penggemar cerutu di Jakarta yang tingkat pertumbuhan lumayan meningkat," tutur Imran.
Syarat untuk menjadi member di Macanudo Cigar Divan cukup mudah. Anda cukup membayar registrasi sebesar 1,5 juta untuk Reguler dan 5 juta untuk Gold. Begitu anda registrasi, anda langsung mendapatkan 1 botol Civas Regall 18 years old untuk Reguler dan 2 botol Civas Regall 18 years old untuk Gold.
Imran menambahkan, banyak keuntungan yang didapat dengan menjadi member di Macanudo Cigar Diva, antara lain untuk yang Reguler akan mendapatkan potongan harga sebesar 20% pembelian minimal 25 stick atau satu kotak cerutu, diskon 10 % untuk tiap pembelian satu batang cerutu, minuman, dan accessories. Sedangkan untuk yang Gold, akan mendapatkan potongan harga sebesar 25% pembelian minimal 25 stick atau satu kotak cerutu, diskon 15 % untuk tiap pembelian satu batang cerutu, minuman, dan accessories. Selain itu, klub dengan ruangan yang terkesan homey itu juga selalu mengundang member dalam setiap event yang diadakan oleh Macanudo Cigar Divan. (ditulis untuk edisi perdana Halo Jakarta)
Jumat, 15 Februari 2008
Agenda Temu Sastrawan Indonesia 2008 di Jambi
Oleh: Sudaryono
Ada beberapa agenda penting yang perlu kita perhatikan terkait Temu Sastrawan Indonesia (TSI) 2008 di Jambi. Agenda itu secara fundamental berkaitan dengan beberapa persoalan
yang mendesak dicarikan solusinya. Rumah tangga sastra Indonesia yang dihuni oleh sastrawan (penyair, cerpenis, novelis, penulis skenario), kritisi, media, dan masyarakat pembaca memberikan gambaran sebagai ekologi yang tidak sehat.
Artinya, masing-masing ranah sastra (kreator, kritisi, media, dan masyarakat pembaca) terkesan berjalan sendiri-sendiri dan terpisah oleh adanya jurang yang membatasi kebersamaan dan saling pengertian. Bahkan, ‘bentrok’ dan perselisihan paham di antara mereka melahirkan kegelisahan tersendiri. Ingatlah perseteruan antarkomunitas sastra akhir-akhir ini, polemik yang melibatkan media massa, langkanya kritikus yang peduli terhadap perkembangan sastra, dan minimnya apresiasi masyarakat terhadap perkembangan sastra. Tidak sehatnya
ekologi sastra Indonesia merupakan pekerjaan rumah yang harus dijadikan wacana penting dalam mengurus rumah tangga sastra Indonesia mutakhir.
Dalam perkembangan sastra pernah muncul humanisme universal, sastra kontekstual, sastra (dominasi) pusat, sastra pedalaman, sastra dekaden, sastra independen, sastra arus bawah dan seterusnya dan seterusnya. Hal ini wajar lantaran sastrawan memiliki progres, visi dan misi dalam berkarya. Hal yang tidak wajar apabila perbedaan pandangan/aliran/isme dll memunculkan konflik berkepanjangan. TSI 2008 mewadahi dan menyediakan fasilitas untuk membangun rumah tangga sastra Indonesia yang menjunjung tinggi keberagaman, kedinamisan, dan keharmonisan sehingga tercipta ekologi sastra Indonesia yang kondusif.
Keberagaman corak budaya daerah perlu diberikan ruang yang leluasa untuk dieksplorasi dalam penciptaan sastra dan diangkat di atas panggung wacana dalam iklim yang demokratis.
Karya sastra yang digali dari tradisi subkultur yang ada di Indonesia akan memberikan rona keberagaman yang manunggal dalam keindonesiaan (“Bhineka Tunggal Ika”). Keberagaman
warna lokal saat globalisasi sekarang ini menjadi penting sebab dengan keberagaman itu pula identitas lokal terwadahi.
Dengan tampilnya identitas lokal yang beragam maka sastra Indonesia mutakhir akan memberikan tawaran-tawaran tematis dan capaian estetis yang menyemarakkan denyut kehidupan sastra Indonesia. Identitas keindonesiaan dapat dibangun berdasarkan kekayaan tradisi lokal yang ada di Indonesia.
Selain keberagaman, anggota rumah tangga sastra Indonesia (sastrawan, kritikus, media, dan masyarakat) masing-masing perlu memiliki kedinamisan yang mandiri. Kedinamisan dan
kemandirian ini memiliki arti penting ketika, misalnya, ada sebagian sastrawan yang ‘ditelikung’, diintimidasi, dikekang kebebasan kreatifnya, dipinggirkan oleh pihak-pihak lain
(pemerintah, pimpinan redaktur koran, organisasi tertentu, pemilik media) memiliki kekuatan advokasi dan pembelaan secara adil dan berimbang. Kedinamisan dan kemandirian anggota rumah tangga sastra Indonesia akan memberikan iklim kondusif kedinamisan kehidupan sastra secara demokratis dan jauh dari sikap-sikap otoriter yang kelewat batas.
Muncul gagasan, mungkin para sastrawan bersatu dalam suatu wadah seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Aliansi Jurnalistik Independent (AJI), Ikatan Keluarga Pengarang Indonesia (IKAPI) yang memiliki keharmonisan? Dengan keharmonisan dimungkinkan sastrawan Indonesia memiliki bargaining power dan bargaining position yang lebih baik.
Mungkin para sastrawan perlu melakukan kongres untuk membicarakan “wadah” dan sekaligus menuntaskan ketidakharmonisan. Dalam kaitan ini, melalui temu sastrawan Indonesia yang dihadiri oleh para pelaku sastra (kreator, kritisi, media, dan masyarakat pembaca) minimal dapat disepakati perlunya agenda forum sastrawan secara kontinyu.
Ekologi sastra tidak sehat, antara lain disebabkan tidak berfungsinya kritik sastra. Realitas menunjukan bahwa kuantitas penerbitan karya sastra tidak diiringi oleh kinerja kritik sastra. Kritik sastra hadir dalam bentuk catatan pengantar atau catatan penutup sebuah buku sastra.
Sepeninggal H.B. Jassin kinerja kritik sastra belum menampilkan hasil maksimal. Dalam hubungannya dengan minimnya kritikus sastra, dipandang perlu melaksanakan workshop penulisan esai/kritik sastra yang diikuti penulis muda berbakat, guru, mahasiswa yang telah biasa menulis di media massa.
Rendahnya apresiasi masyarakat terhadap karya sastra perlu dijembatani melalui Panggung Apresiasi, Pameran, dan Bazzar. Panggung Apresiasi, Pameran, dan Bazzar dapat menampilkan
atraksi keberagaman, kemandirian, kedinamisan dan keharmonisan sastra Indonesia dalam paket performance.
Dalam garis besarnya agenda Temu Sastrawan Indonesia 2008 di Jambi direncanakan sebagai berikut:
(1) Kongres Sastrawan: membicarakan (a) kemungkinan dibentuknya wadah atau forum bersama (sastrawan, kritikus, media, penerbit, apresiator); (b) pemetaan capaian estetik
sastra Indonesia, (c) keberagaman genre, gaya ungkap, dan kreativitas, dan (d) regenerasi sastrawan.
Peserta kongres: Sastrawan (3 generasi), Kritikus, media massa, penerbit, dan undangan khusus. Kongres ini direncanakan 2 hari.
(2) Workshop penulisan esai/kritik sastra: memfasilitasi para penulis muda berbakat, guru sastra, dan mahasiswa untuk mampu menulis kritik/esai sastra. Peserta berkisar 20-30
orang. Waktu whorshop di hari ketiga.
(3) Panggung Apresiasi: menampilkan sastrawan undangan khusus (penyair dan cerpenis Indonesia terpilih), menampilkan keberagaman seni di setiap kota/kabupaten dalam provinsi Jambi, dan sanggar-sanggar seni di kota jambi. Selain itu, memberi ruang bagi olah kreativitas sastrawan kota lain (Padang, Riau, dll) yang dibatasi jumlahnya. Panggung Apresiasi ini digelar selama tiga hari di tempat yang representatif.
(4) Wisata Budaya: wisata budaya ini dimaksudkan untuk memberikan sajian keberagaman yang dimiliki Provinsi Jambi kepada peserta. Mereka misalnya diajak ke situs Candi Muaro Jambi, Pusat batik/kerajinan, kawasan batanghari, Museum, Monumen, dsb. Waktu wisata budaya disesuaikan situasi.
(5) Penerbitan Buku Antologi: menerbitkan 2 buku, yakni: (1) Puisi, cerpen, dan esai sastrawan Indonesia yang dipilih berdasarkan seleksi dan (2) buku puisi sastrawan muda
Sumatera. Buku-buku ini dijadikan cenderamata bagi seluruh peserta Temu Sastrawan Indonesia.
(6) Pameran dan Bazaar. Pameran dan bazaar ini dimaksudkan untuk menampilkan keberagaman karya sastra didukung oleh penerbit-penerbit buku di Indonesia.
Pelaksana Temu Sastrawan Indonesia 2008 di Jambi adalah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi dan didukung oleh Pemerintas Daerah, dan instansi terkait lainnya yang dalam pelaksanaannya dibentuk panitia (berasal dari komunitas sastrawan/ seniman/budayawan/ akademisi).
Pelaksanaan Temu Sastrawan Indonesia direncanakan selama 3 (tiga) hari pada minggu pertama Juli 2008. Temu Sastrawan Indonesia 2008 bertema “KEBERAGAMAN, KEDINAMISAN, DAN KEHARMONISAN EKOLOGI SASTRA INDONESIA”.dengan sub-sub tema berikut:
1) Membangun rumah tangga sastra Indonesia yang mandiri dan harmonis dalam satu forum bersama sastrawan Indonesia;
2) Sastra, sastrawan, dan keberagaman dalam ekspresi dan apresiasi;
3) Regenerasi sastrawan;
4) Menata hubungan sinergis antara sastrawan, kritikus, media massa, penerbit, dan masyarakat.
Demikianlah, gambaran global Temu Sastrawan Indonesia 2008 di Jambi. Mudah-mudahan bermanfaat. Terima kasih.
Jambi, Oktober 2007
Ketua Pelaksana,