Selasa, 29 Januari 2008

Senandung Cinta Dalam Sastra

Senandung Cinta Dalam Sastra
Oleh : Rachmat Nugraha*


Ketika saya membaca cerpen Ressa Novita yang berjudul “Surat Cinta Alice”, saya cukup terhanyut dengan cerita cinta di dalamnya. Dan hal yang sama juga saya rasakan saat membaca cerpen Ressa selanjutnya yang berjudul “Rembulan di Pagi Matahari”. Saya langsung berpikir, cinta memang tak pernah ada hentinya diangkat dalam sebuah karya sastra.
Cinta seperti memiliki tempat tersendiri dalam dunia sastra. Cinta seolah terus menari-nari dengan leluasa dalam sastra.
Ya, cinta dan sastra memang tak dapat dipisahkan. Tak dapat dipungkiri, karya-karya sastra yang mengusung tema cinta telah begitu banyak membuai pembacanya. Tak terkecuali saya. Apalagi jika cerita itu sama persis dengan pengalaman hidup kita. Tentunya kita takkan pernah bosan untuk menikmati karya sastra itu.
Dalam sebuah obrolan, kawan saya pernah berkata kepada saya tentang betapa hebatnya kekuatan cinta yang ada dalam kisah Siti Nurbaya. Dia bilang, “Makanya Mat, elo jangan berhenti bikin cerita soal cinta, karena cinta enggak aka nada matinya”.
Apa yang dikatakan kawan saya ternyata memang benar. Saya melihat begitu banyak cerpen, novel, dan puisi yang berisikan cinta di dalamnya. Mulai dari novel-novel teenlet, hingga novel karangan penulis sekaliber Gola Gong. Mulai dari puisi para penyair pinggiran, hingga puisi karya penyair sekelas W. S Rendra.

****
Sastra ternyata begitu mampu membuat cinta menjadi dahsyat kekuatannya. Namun, menurut saya, alangkah baiknya jika cinta tidak selalu diangkat sisi baiknya saja dalam sebuah karya sastra. Sesekali cinta juga harus diperlihatkan sisi buruknya.
Sastra harus juga mengajarkan manusia untuk tidak selalu mendewakan cinta. Dan ini merupakan tanggung jawab dari penulis dan penyair. Mereka harus mampu mengajarkan para penikmat sastra untuk memaknai cinta dengan sebenar-benarnya. Mereka harus mengajarkan masyarakat untuk mengekspresikan rasa cinta itu secara wajar.
Harus diingat, sastra sangat bertanggung jawab akan peradaban manusia. Dalam hal ini soal cinta termasuk di dalamnya. Jika sebuah karya sastra menceritakan cinta secara berlebihan, maka itu sama saja menanamkan nilai-nilai yang akan berdampak buruk terhadap manusia yang menikmati karya tersebut.

****
Begitulah sebenarnya karya sastra Indonesia yang sangat kaya dengan tema cinta dan cinta itu niscaya terus menyemarakkan khazanah kesusastraan Indonesia. Yang penting adalah bagaimana seharusnya cinta itu disajikan dalam karya sastra.


* Novelis, Direktur Eksekutif Komunitas Penulis Jakarta, Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Jendela.


1 komentar:

Anonim mengatakan...

Karya tulis, bukan hanya novel..mampu menguatkan dan menuhankan Cinta...
Bisa dalam bentuk puisi, surat, atau bahkan cerita mini.